MAKALAH BUBUR JEWAWUT
KATA PENGANTAR
Puji
syukur mari kita panjatkan kepada allah SWT, bahwa atas rahmat-Nya kami dapat
menyelesaikan tugas saya
dalam menyusun makalah ini yang berjudul “BUBUR
JEWAWUT”. Makalah ini saya susun
untuk mengetahui lebih jauh tentang jewawut dan cara
pembuatan makanan yang bahannya menggunakan jewawut.
Kami mengucapkan terimakasih kepada semua
pihak yang turut mendukung penyusunan makalah ini, terutama Bapak
Dr. Dadi,M.Si selaku Dosen Pengetahuan Lingkungan
serta rekan-rekan FKIP Universitas Galuh Ciamis program studi Biologi.
Terakhir
kami mengucapkan banyak terima
kasih kepada Dosen Mata Kuliah yang mana telah memberi motivasi dengan cara
memberi tugas menyusun makalah,dan semoga tugas yang kami kerjakan ini dapat
bapak terima dan memenuhi kriteria penilaian tugas.
Terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam penyusunan makalah ini,dari itu
kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini saya terima dengan senang hati sehingga
makalah ini menjadi lebih sempurna.
Ciamis,30
November 2012
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………….……..
DAFTAR ISI
………………………………………………………………………………..…
BAB 1 PENDAHULUAN
…………………………………………………………………….
A. Latar Belakang ………………………………………………………………………
B. Rumusan Masalah …………………………………………………………………...
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan .……………………………………………………..
D. Nilai Penting ………………………………………………………………………..
E. Metode Penulisan
.......................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN ……………………………………………………………………..
A. Pengertian …………………………………………………………..………………
B. Klasifikasi Tumbuhan ………………………………………………………………
C. Kandungan Gizi……………………………………………….……………..………
D. Manfaat Tanaman Jewawut …………………………………………………………
E. Nilai Kearifan Lokal ………………………………………………………………...
F. Cara Pembuatan Bubur Jewawut
................................................................................
BAB III PENUTUP
...................................................................................................................
A. Kesimpulan ……………………………………………………………….…………
B. Saran ……………………………………………………………….……..…………
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………….…………….…………….....
LAMPIRAN
...............................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Indonesia memiliki
sumber daya yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya.
Indikator ketahanan pangan juga menggambarkan kondisi yang cukup baik. Akan
tetapi, masih banyak penduduk Indonesia yang belum mendapatkan kebutuhan pangan
yang mencukupi. Sekitar tiga puluh persen rumah tangga mengatakan bahwa
konsumsi penduduk Indonesia masih berada di bawah kebutuhan konsumsi yang
semestinya. Indonesia memproduksi sekitar 31 juta ton beras setiap tahunnya dan
mengkonsumsi sedikit di atas tingkat produksi tersebut, dimana impor umumnya
kurang dari 7% konsumsi. Lebih dari seperempat anak usia di bawah 5 tahun
memiliki berat badan di bawah standar, dimana 8 % berada dalam kondisi sangat
buruk. Bahkan sebelum krisis, sekitar 42% anak di bawah umur 5 tahun mengalami
gejala terhambatnya pertumbuhan (kerdil), suatu indikator jangka panjang yang
cukup baik untuk mengukur kekurangan gizi yang dapat menghambat pertumbuhan
anak secara normal.
Diversifikasi Pangan
sebagai alternatif solusi untuk menangani permasalahan ketahanan maupun
produktivitas pangan. Laju pertumbuhan produksi beras dalam delapan tahun
terakhir sudah lebih rendah dari periode sebelumnya. Sedangkan terobosan
teknologi padi akan sangat terbatas. Sistem komoditi beras sudah tidak dapat
lagi diandalkan sebagai sumber pertumbuhan. Selain itu, komoditi ini juga
mempunyai kaitan ke industri hilir yang kecil. Sumber pertumbuhan tanaman
pangan hanya mungkin melalui diversifikasi tanaman pangan, terutama tanaman
semusim.
Dalam makalah ini penulis akan menjelaskan mengenai makanan-makanan tradisional yang
sudah sangat jarang ditemukan. Bahkan untuk remaja sekarang makanan-makanan
tersebut asing bagi mereka. Salah satunya bubur jewawut atau biasa juga disebut
bubur kunyit.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apakah jewawut
bisa mengganti padi ?
2.
Bagaimanakah kandungan
gizi tumbuhan jewawut ?
3.
Bagaimanakah
caranya membuat makanan dengan bahan jewawut ?
C. Tujuan dan
Manfaat penulisan
·
Tujuan dalam
penulisan makalah ini adalah :
1. Memenuhi salah satu tugas mata Pengetahuan
Lingkungan.
2. Untuk mengetahui
pemanfaatan dari Jewawut.
3. Untuk menambah wawasan tentang macam-macam
makanan yang sudah jarang ditemukan.
4.
Untuk mengetahui jenis
pangan lain yang bisa menggantikan atau mensubstitusi pangan pokok yaitu padi
dan jagung dengan jewawut.
·
Manfaat dalam
penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk Penyelidikan atau penelusuran jenis makanan yang
bergizi tinggi yang tidak dipahami secara pasti dalam pemanfaatannya oleh
masyarakat.
2. Pemaparan makalah tentang makanan tertanam yang bernilai baik di harapkan dapat
diikuti
dengan baik oleh anggota
masyarakat
dan dijadikan bahan alternatif untuk memenuhi
kebutuhan akan pangan non beras.
3. memberikan
pengetahuan terhadap mahasiswa tentang pentingnya budidaya tanaman pangan atau
tanaman semusim serta sebagai bahan informasi dan referensi tentang jenis
pangan lain selain pangan yang umum dikonsumsi seperti padi dan jagung.
D. Nilai
Penting
Pembangunan
pertanian tanaman pangan di Ciamis
merupakan simbol pembangunan
pertanian
Kota yang meliputi padi dan
palawija. Namun di lain pihak, pengembangan tanaman serealia lainnya selain
padi dan jagung sangat diharapkan untuk menunjang pengembangan diversifikasi
pangan sebagai bahan alternatif untuk memenuhi kebutuhan akan pangan non beras.
Masalah pangan di Ciamis
juga tidak terlepas dari produksi atau penghasil beras dan terigu, di samping
bahan pangan lainnya seperti ubi kayu, jagung, kacang tanah, dan sagu. Salah
satu alternatif pemecahan masalah kelangkaan bahan pangan, baik terigu maupun
beras adalah melalui substitusi atau mengganti dengan tanaman pangan (semusim)
yang lain, seperti gandum, jewawut, sorghum, dan wijen. Tanaman semusim utama
(gandum, jewawut, sorghum, dan wijen) di Ciamis
sebenarnya sudah sejak lama dikenal tetapi pengembangannya tidak sebaik padi
dan jagung. Hal ini dikarenakan masih sedikitnya daerah yang memanfaatkan
tanaman semusim tersebut sebagai bahan pangan utama, terutama dalam industri
maupun konsumsi. Tanaman semusim tersebut mempunyai prospek yang sangat baik
untuk dikembangkan secara komersial di Ciamis
karena didukung oleh adanya kondisi agroekologis dan ketersediaan lahan yang
cukup luas.
E.
Metode
Penulisan
Metode
penulisan dalam makalah ini yaitu:
1.
Penulisan mempergunakan metode observasi.
2.
Penulis membaca artikel-artikel yang berkaitan dengan penulisan makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Jewawut
Jewawut (Setaria italica) atau sering disebut
kunyit dan otek tergantung daerah masing-masing adalah sejenis serealia
berbiji kecil (milet)
yang pernah menjadi makanan pokok masyarakat Asia Timur
dan Asia Tenggara
sebelum budidaya padi
dikenal orang. Tumbuhan ini adalah yang pertama kali dibudidayakan di antara
berbagai jenis milet dan sekarang menjadi milet yang terluas penanamannya di
seluruh dunia, dan yang terpenting di Asia Timur.
Catatan dari Cina menunjukkan paling
tidak juwawut telah dibudidayakan pada sekitar 6000 tahun sebelum Masehi. Pada
saat itu, juwawut menjadi satu-satunya biji-bijian yang dibudidayakan di sana.
Dari Cina, tanaman ini kemudian menyebar ke barat, hingga mencapai Eropa pada
sekitar milenium kedua sebelum Masehi. Orang Romawi telah
mengenal dan membudidayakannya, sehingga dikenal pula sebagai "milet
Italia".
Tanaman juwawut
adalah tanaman semusim seperti rumput, yang dapat mencapai ketinggian 2m. Malainya rapat,
be"rambut", dan dapat mencapai panjang 30cm, sehingga orang Inggris
menamakannya "milet ekor rubah" (foxtail millet). Bulirnya kecil,
hanya sekitar 3mm diameternya, bahkan ada yang lebih kecil. Warna bulir
beraneka ragam, mulai dari hitam, ungu, merah, sampai jingga kecoklatan.
Jewawut merupakan
tanaman monokotil yang memiliki tipe perkecambahan hypogeal. Dimana terjadi
pemanjangan epikoti sehingga plumula menembus kulit biji dan muncul di atas
permukaan tanah, sedangkan kotiledon tetap berada di dalam tanah. Penyerbukan
yang dilakukan ialah penyerbukan sendiri. Namun dapat juga dibantu oleh
angin. Bunga jantan dan betina terdapat dalam satu tanaman sehingga proses
penyerbukannya tergolong penyerbukan sendiri.
Jewawut dapat
ditanam di daerah semi kering dengan curah hujan kurang dari 125 mm selama masa
pertumbuhan yang pada umumnya 3-4 bulan. Tanaman ini tidak tahan terhadap
genangan dan rentan terhadap periode musim kering yang lama. Di daerah tropis,
tanaman ini dapat tumbuh pada daerah semi kering sampai ketinggian 2000 m dpl.
Tanaman ini menyukai lahan subur dan dapat tumbuh baik pada bebagai jenis tanah, seperti
tanah berpasir hingga tanah liat yang padat, dan bahkan tetap tumbuh pada tanah
miskin hara atau tanah pinggiran. Sedangkan pH yang cocok untuk tanaman ini
adalah 4-8.
Terdapat dua
kelompok varietas biologis. Yang pertama adalah yang
biasa dimakan orang, S. italica var. italica, dan yang kedua
adalah yang biasa dijadikan pakan burung, S. italica var. moharica.
B.
Klasifikasi (Taksonomi)
Tanaman
Kingdom :
Plantae
Subkingdom : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
Super
Divisi : Spermatophyta
(menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan
berbunga)
Kelas : Moncots
SubKelas : Commelinidae
Famili : Poaceae
(suku rumput-rumputan)
C. Kandungan Gizi
Khasiatnya tidak
diragukan lagi karena zat yang terkandung didalamnya hampir sama dengan beras
dan jagung. Bahkan dapat pula dikatakan sebagai "Havernya Indonesia"
Kandungannya adalah karbohidrat 84,2%,
protein 10,7%, lemak 3,3%, serat 1,4%, Ca 37 mg, Fe 6,2 mg, vitamin C 2,5,
vitamin B1 0,48, dan vitamin B2 0,14.
D.
Manfaat
Tanaman Jewawut
Dalam pengolahannya, jewawut ini mirip dengan
beras. Awalnya jewawut dijemur, dikuliti, hingga tinggal dagingnya. Artinya
jewawut di sini hampir sama dengan beras ketan. Kemudian tanaman Jewawut dapat
diolah menjadi tepung untuk mensubtitusi tepung beras. Karena jewawut ini
mengandung sumber Vitamin B dan Beta Karotin yang rendah. Selain itu, jewawut
dapat menjadi bahan minuman penyegar seperti Milo dengan cukup
ditambah dengan coklat dan susu. Selain itu juga dapat berfungsi sebagai obat
kanker.
E.
Nilai Kearifan Lokal
Setelah
melakukan wawancara
secara langsung terhadap beberapa tokoh masyarakat, ternyata sari jewawutnya juga berguna untuk menyembuhkan batuk,
tenggorokan kering akibat panas dalam, melancarkan air kencing, membersihkan
lambung, menghilangkan dahaga, meredakan panas dalam dan memiliki khasiat
sebagai pembersih lambung, pelunak maupun pengurai. Jewawut mengandung berbagai
manfaat kesehatan, seperti menurunkan kolesterol, mengurangi infeksi kanker
kolon, dan mengurangi infeksi penyakit jantung, andai Produk olah
makanan jewawut marak terproduksi seperti dulu maka akan
dapat mendatangkan manfaat besar bagi kesehatan individu pengidap
diabetes yang tidak tergantung dengan insulin ( NIDDM ).
F. Cara Pembuatan Bubur
Jewawut
Setelah membaca begitu hebatnya gizi
yang ada pada tumbuhan ini, penulis akan berbagi cara pembuatan makanan dengan
bahan tumbuhan Jewawut pada zaman dulu.
Makanan ini bila dilihat dari nama memang kurang
menarik apalagi mengetahui fakta kalau biji ini juga dijadikan pakan burung,
tetapi sebenarnya makanan ini enak rasanya dan memiliki
kandungan gizi yang tinggi, cara pembuatan akan di paparkan dengan lampiran gambar sebagai
berikut :
Ø
Alat dan Bahan
1.
Panci
2.
Sendok masak
3.
Lap tangan
4.
Jewawut/kunyit sesuai kebutuhan
5.
Gula merah
6.
Garam
7.
Santan secukupnya
8.
Air
Ø
Cara membuat
1.
Cuci biji jewawut dengan air
mengalir
2.
Siapkan panci lalu masukan jewawut
yang sudah dicuci bersih, beri air hingga biji terendam
3.
Masak biji jewawut hingga menjadi
lunak atau cangkangnnya membuka, jangan lupa sambil diaduk-aduk agar tidak
mengerak
4.
Setelah jewawut lunak masukan santan
lalu aduk kembali
5.
Dan masukan gula merah sesuai
selera, aduk hingga mencair dan menyatu dengan bubur
6.
Masukan satu sendok teh garam. Agar
rasanya lebih nikmat
7.
Aduk terus hingga mengental
8.
Setelah mengental bubur bisa
diangkat dan disajikan. Bisa juga ditambah dengan santan lagi sesuia selera.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Tanaman juwawut adalah tanaman semusim
seperti rumput
yang memiliki gizi yang sama dengan padi dan jagung, kaya akan vitamin B dan
dapat di manfaatkan untuk penyegaran tubuh dan obat kanker.
Tanaman ini sangat mudah untuk dibudidayakan karena
di tanam pada lahan-lahan ladang penduduk dengan cara tanah yang digembur
ditaburi dengan biji Jewawut. Kemudian tidak membutuhkan jenis tanah khusus.
Olehnya itu, bisa ditanam dimana saja dengan cara ditabur. Kemudian dari segi
ekonomi tidak membutuhkan biaya produksi yang tinggi dan dalam pemeliharaan
sederhana karena tidak membutuhkan pestisida dan jenis kimia lainnya. Hanya
saja perlu diamankan dari gangguan burung karena merupakan salah satu makanan
burung.
B.
Saran
Bagi kita mahasiswa/i prodi Biologi
hendaknya tahu mengenai
makanan-makanan tradisional dan untuk lebih bagusnya lagi bisa membudidayakan makanan-makanan tersebut dan
Kedepannya,
mudah-mudahan pemerintah dapat mengadakan sosialisasi tentang manfaat dari
jenis tanaman jewawut ini kepada masyarakat supaya dapat menanam untuk
memperkuat ketahanan pangan kita di Indonesia Khususnya masyarakat Ciamis untuk tidak bergantung
kepada beras semata sehingga menjadikan Jewawut sebagai komoditas andalan.
DAFTAR PUSTAKA

Komentar
Posting Komentar