Perkembangan Peserta Didik
MEKANISME PERILAKU MANUSIA
1.Pandangan Psikologi tentang
Hakekat Manusia
Salah satu tugas utama guru
adalah berusaha mengembangkan perilaku pesertadidiknya. Dalam hal ini, Abin
Syamsuddin Makmun (2003) menyebutkan bahwa tugasguru antara lain sebagai
pengubah perilaku peserta didik
(behavioral changes).
Olehkarena itu itu, agar
perilaku peserta didik dapat berkembang optimal, tentu sajaseorang guru
seyogyanya dapat memahami tentang bagaimana proses dan mekanismeterbentuknya
perilaku para peserta didiknya. Untuk memahami perilaku individu dapatdilihat
dan dua pendekatan, yang saling bertolak belakang, yaitu: (1)behaviorisme dan
(2)humanisme.Kedua pendekatan ini memiliki implikasi yang luasterhadap proses
pendidikan, baik untuk kepentingan pembelajaran, pengelolaan
kelas, pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya. Di bawah
ini akan diuraikanmekanisme pembentukan perilaku dilihat dan kedua pendekatan tersebut
denganmerujuk pada tulisan Abin Syamsuddin Makmun (2003).
a.Mekanisme Pembentukan Perilaku
Menurut Aliran Behaviorisme
Behaviorisme memandang bahwa
pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan
penguatan
(reinforcement)
dengan mengkondisikan
ataumenciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam
lingkungan.Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya
perilakuindividu dapat digambarkan dalam bagan berikut :
S-R ATAU S-O-R
S = stimulus (rangsangan); R =
Respons (perilaku, aktivitas) dan 0=organisme(individu/manusia).Karena stimulus
datang dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukankepadanya, maka
mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan sepertitampak dalam
bagan berikut ini :
W-S-O-R-W
Yang dimaksud dengan lingkungan
(W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenisyaitu :
(1)
Lingkungan objektif
(u m
g e b
u n g
= s e
g a l
a sesuatu yang ada di sekitar
individudan secara potensial dapat melahirkan S)
(2)
Lingkungan efektif
(umwelt=segala
sesuatu yang aktual merangsang
organismekarena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran
tertentu pada diriorganisme dan is meresponsnya)Perilaku yang berlangsung
seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut
d e
n g a n p e
r i l
a k u s p
o n t a n.
Contoh : seorang mahasiswa
sedang mengikuti perkuliahan di ruangan kelas yang terasa panas, secara
spontan mahasiswa tersebut mengipas-ngipaskan buku untuk
meredamkegerahannyaRuangan kelas yang panas merupakan lingkungan (W) dan
menjadi stimulus (S) bagimahasiswa tersebut (0), secara spontan
mengipaskan-ngipaskan buku merupakanrespons (R) yang dilakukan mahasiswa.
Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W)setelah mengipas-ngipaskan buku.Sedangkanperilaku
sadar
dapat digambarkan sebagai
berikut:
W-S-Ow-R-W
Contoh : ketika sedang mengikuti
perkuliahan di ruangan kelas yang terasa agak gelapkarena waktu sudah sore hari
ditambah cuaca mendung, ada seorang mahasiswa yangsadar kemudian dia berjalan
ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakanlampu yang ada di
ruangan kelas, sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebihnyaman dalam
mengikuti perkuliahan.Ruangan kelas yang gelap, waktu sore hari, dan cuaca
mendung merupakanlingkungan (W), ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di
sekelilingnya (Ow), meskidi ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun
mereka mungkin tidak menyadariterhadap keadaan sekelilingnya. berjalan ke
depan, meminta ijin ke dosen, danmenyalakan lampu merupakan respons yang
dilakukan oleh mahasiswa yang sadar tersebut (R), suasana kelas menjadi
terang dan mahasiswa menjadi lebih menyaman dalammengikuti perkuliahan
merupakan (W).Sebenarnya, masih ada dua unsur penting lainnya dalam diri setiap
individu yangmempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu
R e c ep tors
(panca inderasebagai alat
penerima stimulus) dan
effectors
(syaraf, otot dan sebagainya
yangmerupakan pelaksana gerak R).
Selengkapnya mekanisme perilaku
sadar dapat digambarkan sebagai berikut :
W-S-r-Ow-e-R-W
Dengan mengambil contoh perilaku
sadar tadi, bagan di atas dapat dijelaskan bahwamahasiswa yang sadar (Ow)
mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjaditidak jelas, sehingga
tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik.Menggerakkan kaki menuju
ke depan, mengucapkan minta izin kepada dosen, tanganmenekan saklar lampu
merupakan effector.
b. MekanIsme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran
Holistik ( humanisme)
Holistik atau humanisme
memandang bahwa perilaku itu bertujuan, yang berarti aspek-aspek intrinsik
(niat, motif, tekad) dan dalam diri individu merupakan faktor penentuuntuk
melahirkan suatu perilaku, meskipun tanpa ada stimulus yang datang
darilingkungan. Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu
dalamkonteks
what (apa), how
(bagaimana), dan why (mengapa).What (apa)menunjukkankepada tujuan
(g o
a l s
I n c
e n t
I v e s /
p u r
p o se) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. How (bagaimana)
menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan ( (g o
a l s
I n c
e n t
I v e s /
p u r
p o se), yakni perilakunya itu
sendiri. Sedangkanwhy(mengapa)menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan
terjadinya dan berlangsungnya perilaku
(how),
baik bersumber dan din
individu itu sendiri (motivasi instrinsk)maupun yang bersumber dan luar
individu (motivasi ekstrinsik). Secara skematik rangkaian, proses dan
mekanisme terjadinya perilaku menurut pandangan Holistik,dapat dijelaskan dalam
bagan berikut :

Berdasarkan bagan di atas tampak
bahwa terjadinya perilaku individu diawali dariadanya kebutuhan. Setiap individu,
demi mempertahankan kelangsungan danmeningkatkan kualitas hidupnya, akan
merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau
kebutuhan-kebutuhan tertentu
dalam dirinya. Dalam hal ini, Maslowmengungkapkan jenis jeniskebutuhan-individu
secara hierarkis, yaitu: (1) kebutuhanfisiologikal, seperti : sandang, pangan
dan papan; (2) kebutuhan keamanan, tidak dalam arti fisik, akan tetapi
juga mental, psikologikal dan intelektual; (3) kebutuhankasih sayang atau
penerimaan; (4) kebutuhan prestise atau harga diri, yang padaumumnya tercermin
dalam berbagai simbol-simbol status; dan (5) kebutuhanaktualisasi
diri.Sementara itu, Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata,2005) mengetengahkan
empat jeniskebutuhan individu, yaitu:
(1)Kebutuhan berprestasi(need
for achievement),yaitu kebutuhan untuk berkompetisi, baik dengan
dirinya atau dengan orang lain dalam mencapai prestasi tinggi.
(2)Kebutuhan berkuasa(need for
power),yaitu kebutuhan untuk mencari danmemiliki kekuasaan dan pengaruh
terhadap orang lain.
(3)Kebutuhan untuk membentuk
ikatan(need for affiliation),yaitu kebutuhan untuk mengikat diri dalam
kelompok, membentuk keluarga, organisasi ataupun persahabatan.
(4)Kebutuhan takut akan
kegagalan(need for fear offailure),yaitu kebutuhan untuk menghindar diri
dari kegagalan atau sesuatu yang
menghambat perkembangannya.Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya
menjadi dorongan (motivasi) yangmerupakan kekuatan (energi) seseorang yang
dapat menimbulkan tingkat persistensi danentusiasmenya dalam melaksanakan suatuaktivitas,
baik yang bersumber dari dalamdiri individu itu sendiri(motivasi
intrinsik)maupun dari luar individu(motivasiekstrinsik).Jika kebutuhan yang
serupa muncul kembali maka pola mekanisme perilaku itu akandilakukan
pengulangan(stereotype behavior),sehingga membentuk suatu siklus, yangdapat
digambarkan sebagai berikut :

Berkaitan dengan motif individu,
untuk keperluan studi psikologis, motif individu dapatdikelompokkan ke dalam 2
golongan, yaitu :
1.Motif primer (basic
motive dan emergency motive);
menunjukkan kepada motif
yangtidak pelajari, dikenal dengan istilah
drive,seperti : dorongan untuk
makan, minum,melarikan diri, menyerang, menyelamatkan diri dan sejenisnya.
2.Motif sekunder; menunjukkan
kepada motif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan
dipelajari, seperti : takut yang dipelajari, motif-motif sosial (inginditerima,
konformitas dan sebagainya), motif-motif obyektif dan interest
(eksplorasi,manipulasi. minat), maksud dan aspirasi serta motif
berprestasi.Untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dan
indikator-indikatomya, yaitu : (1)durasi kegiatan; (2) frekuensi kegiatan; (3)
persistensi pada kegiatan; (4) ketabahan,keuletan dan kemampuan dalam
mengahadapi rintangan dan kesulitan; (5) devosi dan pengorbanan untuk
mencapai tujuan; (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengankegiatan yang
dilakukan; (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk
(out put) yangdicapai dan
kegiatan yang dilakukan; (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan.Dalam diri
individu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuantertentu.
Dengan beragamnya motif yang terdapat dalam individu, adakalanyaindividu harus
berhadapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut
konflik.
Bentuk-bentuk konflik tersebut
diantaranya adalah
1. Approach-approach
conflict;
jika individu dihadapkan
pada dua motif atau lebih dansemua alternatif motif sama-sama kuat, dikehendaki
serta bersifat positif.
2.Avoidance-avoidance conflict;
jika individu dihadapkan
pada dua motif atau lebihdan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak
dikehendaki dan bersifatnegatif.
3.Approach-avoidance conflict;
jika individu dihadapkan
pada dua motif atau lebih,
yang satu positif dan
dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun
sama kuatnya.Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti
dikemukakan di atastentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil
keputusan dan sangat mungkinmenjadi perang batin yang berkepanjangan.Dalam
pandangan holistik, disebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhandalam
dirinya, setiap aktivitas yang dilakukan individu akan mengarah pada
tujuantertentu. Dalam hal ini, terdapat dua kemungkinan, tercapai atau tidak
tercapai tujuantersebut. Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan
memperoleh keseimbangan diri
(homeostatis).
Namun sebaliknya, jika
tujuan tersebut tidak tercapai dankebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan
kecewa atau dalam psikologi disebutfrustasi. Reaksi individu terhadap frustrasi
akan beragam bentuk perilakunya, bergantung kepada akal sehatnya
(reasoning, inteligensi).
Jika akal sehatnya
beranimengahadapi kenyataan
maka dia akan lebih dapat
menyesuaikan din secara sehat danrasional
(well adjustment).
Namun, jika akal sehatnya
tidak berfungsisebagaimana mestinya, perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat
emosinalnya, maka diaakan mengalami penyesuaian diri yang keliru
(maladjusment).
Bentuk perilaku penyesuaian diri
yang keliru
(maldjustment),
diantaranya : (1) agresimarah;
(2) kecemasan tak berdaya; (3) regresi (kemunduran perilaku); (4) fiksasi;
(5)represi (menekan perasaan); (6) rasionalisasi (mencari alasan); (7) proyeksi
(melemparkankesalahan kepada lingkungan); (8) sublimasi (menyalurkan hasrat
dorongan padaobyek yang sejenis); (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau
kelemahan dengansukses di bidang lain); (10) berfantasi (dalam angan-angannya,
seakan-akan is dapatmencapai tujuan yang didambakannya).Di sinilah peran guru
untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya agar terhindar dari
konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapatmenimbulkan perilaku
salah-suai. Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk mengatasinya
apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan danfrustrasi.
2.Taksonomi Perilaku Individu
Kalau perilaku individu mencakup
segala pernyataan hidup, betapa banyak katayang hams dipergunakan untuk
mendeskripsikannya. Untuk keperluan studi tentang perilaku kiranya perlu
ada sistematika pengelompokan berdasarkan kerangka berfikir
tertentu (taksonomi).Dalam
konteks pendidikan, Bloom mengungkapkan tiga kawasan
(domain)
perilaku individu beserta
sub kawasan dan masing-masing kawasan, yakni :
a.Kawasan Kognitif
; yaitu kawasan yang berkaitan
aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar.
1)Pengetahuan
(knowledge);
Pengetahuan merupakan aspek
kognitif yang paling rendah tetapi palingmendasar. Dengan pengetahuan individu
dapat mengenal dan mengingat kembalisuatu objek, ide prosedur, konsep,
definisi, nama, peristiwa, tahun, daftar, rumus, teori,atau kesimpulan.
2)Pemahaman
(comprehension)
Pemahaman atau dapat dijuga
disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatanmental intelektual yang
mengorganisasikan materi yang telah diketahui. Temuan-temuanyang didapat dari
mengetahui seperti definisi, informasi, peristiwa, fakta disusunkembali dalam
struktur kognitif yang ada. Temuantemuan ini diakomodasikan dankemudian
berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada, sehingga
membentuk struktur kognitif baru.
3)Penerapan
(application)
Menggunakan pengetahuan untuk
memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan
sehari-hari. Seseorang dikatakan menguasaikemampuan ini jika ia dapat memberi
contoh, menggunakan,mengklasifikasikan, memanfaatkan, menyelesaikan dan
mengidentifikasi hal-hal yangsama. Contoh, dulu ketika pertama kali
diperkenalkan kereta api kepada petani diAmerika, mereka berusaha untuk memberi
nama yang cocok bagi alat angkutan tersebut.Satu-satunya alat transportasi yang
sudah dikenal pada waktu itu adalah kuda. Bagimereka, ingat kuda ingat
transportasi. Dengan pemahaman demikian, maka mereka
memberi nama pada kereta api
tersebut dengan
iron horse(kuda besi). Hal
inimenunjukkan bagaimana mereka menerapkan konsep terhadap sebuah temuan baru.
4)Penguraian(analysis);
Menentukan bagian-bagian dan
suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar- bagian tersebut, melihat
penyebab-penyebab dan suatu peristiwa atau memberiargumen-argumen yang
menyokong suatu pernyataan
Jenis-jenis
Motivasi
Menurut sifatnya, motivasi
dibedakan menjadi dua yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik
(Sardiman 2001:87) yaitu sebagai berikuta.
Motivasi intrinsik adalah
motif-motif yang menjadi aktif atau karena dalam dirinyasetiap individu sudah
ada dorongan untuk melakukan sesuatu, misalnya:kesadaran untuk belajar di
rumah, kemauan untuk mengerjakan tugas,
menyimak keterangan guru dan
berfungsinya aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar,
kemauan untuk mengemukakan pendapat.b.
Motivasi ekstrinsik adalah
motif-motif yang menjadi aktif dan berfungsinyakarena adanya perangsang dari
luar,misalnya peran orang tua dan guru dalampemberian motivasi agar ia giat
belajar.
2.1.5
Fungsi motivasi belajar
Ada beberapa fungsi motivasi
menurut Nasution (1999: 76) adalah:a.
Mendorong manusia untuk
berbuat.Jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi
disinimerupakan motor penggerak dari kegiatan yang akan dikerjakan.b.
Menentukan arah perbuatan yakni
kearah tujuan yang hendak dicapai.Motivasi disini memberikan arah dan kegiatan
yang harus dikerjakan sesuaidengan rumusan tujuannya.c.
Menyeleksi perbuatan yakni
menentukan perbuatan apa yang harusdikerjakan, yang serasi dalam mencapai
tujuan dengan menyisihkanperubahan-perubahan yang tidak bermanfaat bagi tujuan
tersebut.
2.1.6
Indikator Motivasi
Dalam Sardiman (2001:81),
disebutkan bahwa motivasi yang ada pada dirisiswa, memiliki ciri-ciri sebagai
berikut :
a.tekun menghadapi tugas
b.Ulet menghadapi kesulitan
c.menunjukkan minat terhadap
bermacam-macam masalah
d.lebih senang bekerja mandiri
e.cepat bosan pada tugas-tugas
rutin
f.dapat mempertahankan
pendapatnya
g.tidak mudah melepaskan hal
yang diyakininya.
h.senang mencari dan memecahkan
masalah soal-soal.
2.1.7
Faktor–faktor yang
mempengaruhi motivasi belajar
Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi motivasi belajar (Max Darsonodkk 2000:34) antara lain:
a.Cita-cita atau
aspirasiCita-cita atau apirasi adalah suatu target yang ingin dicapai.
Penentuan targetini tidak sama bagi semua siswa. Target ini diartikan sebagai
tujuan yangditetapkan dalam suatu kegiatan yang mengandung makna bagi seseorang.
b.KemampuanDalam belajar dibutuhkan kemampuan. Kemampuan
ini meliputibeberapa aspek psikis yang terdapat dalam diri siswa, misalnya
pengamatan,perhatian dan daya pikir fantasi.
c.Kondisi siswaKondisi siswa
meliputi kondisi fisik dan kondisi psikologis tetapi biasanyaguru lebih cepat
melihat kondisi fisik karena jelas menunjukkan gejalanyadaripada kondisi
psikologisnya
.d.Kondisi lingkungan
Kondisi lingkungan siswa
meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolahdan lingkungan masyarakat.
Ketiga unsur lingkungan tersebut di atas dapatmendukung dan menghambat motivasi
belajar.
e.Unsur-unsur dinamis dalam
belajarUnsur-unsur dinamis dalam belajar adalah unsur-unsur yang
keberadaannyadalam proses belajar tidak stabil, kadang-kadang kuat,
kadang-kadang lemahdan bahkan hilang sama sekali khususnya kondisi-kondisi yang
sifatnyakondisional misalnya emosi siswa, gairah belajar, situasi belajar,
situasidalam keluarga.f.
Upaya guru membelajarkan siswaUpaya
yang dimaksud di sini adalah bagaimana guru mempersiapkan diridalam
membelajarkan siswa mulai dari penguasaaan materi, caramenyampaikannya, menarik
perhatian siswa, mengevaluasi hasil belajarsiswa. Bila upaya tersebut
dilaksanakan dengan berorientasi padakepentiangan siswa maka diharapkan upaya
tersebut menimbulkan motivasibelajar siswa
PENGERTIAN KREATIVITAS SECARA UMUM
Barron (1982: 253) mendefinisikan bahwa kreativitas adalah kemampuan
untuk menciptakan sesuatu yang baru. Guilford (1970: 236) menyatakan bahwa
kreativitas mengacu pada kemampuan yang menandai cirri-ciri seorang kreatif.
Guilford mengemukakan dua cara berpikir, yaitu cara berpikir konvergen dan
divergen. Cara berpikir konvergen adalah cara-cara individu dalam memikirkan
sesuatu dengan pandangan bahwa hanya ada satu jawaban yang benar. Sedangkan
cara berpikir divergen adalah kemampuan individu untuk mencari berbagai
alternative jawaban terhadap suatu persoalan.
PERKEMBANGAN KREATIVITASPerkembangan kreativitas juga merupakan perkembangan proses kognitif maka kreativitas dapat ditinjau melalui proses perkembangan kognitif berdasarkan teori yang diajukan oleh Jean Piaget. Menurut Jean Piaget (McCormack, 1982) ada empat tahap perkembangan kognitif, yaitu sebagai berikut.
1. Tahap Sensori-Motoris
Tahap ini dialami pada usia 0-2 tahun. Menurut Piaget (Bybee dan Sund, 1982), pada tahap ini interaksi anak dengan lingkungannya, termasuk orang tuanya, terutama dilakukan melalui perasaan dan otot-ototnya.
Tahap ini dialami pada usia 0-2 tahun. Menurut Piaget (Bybee dan Sund, 1982), pada tahap ini interaksi anak dengan lingkungannya, termasuk orang tuanya, terutama dilakukan melalui perasaan dan otot-ototnya.
2. Tahap Praoperasional
Tahap ini berlangsung pada usia 2-7 tahun. Tahap ini disebut juga tahap intuisi sebab perkembangan kognitifnya memperlihatkan kecenderungan yang ditandai oleh suasana intuitif.
Tahap ini berlangsung pada usia 2-7 tahun. Tahap ini disebut juga tahap intuisi sebab perkembangan kognitifnya memperlihatkan kecenderungan yang ditandai oleh suasana intuitif.
3. Tahap Operasional Konkret
Tahap ini berlangsung antara usia 7-11 tahun. Pada tahap ini, anak mulai menyesuaikan diri dengan relitas konkret dan berkembang rasa ingin tahunya.
Tahap ini berlangsung antara usia 7-11 tahun. Pada tahap ini, anak mulai menyesuaikan diri dengan relitas konkret dan berkembang rasa ingin tahunya.
4. Tahap Operasional Formal
Tahap ini dialami oleh anak pada usai 11 tahun ke atas. Pada tahap ini, menurut Jean Piaget, interaksinya dengan lingkungan sudah amat luas menjangkau banyak teman sebayanya dan bahkan berusaha untuk dapat berinteraksi dengan orang dewasa.
TAHAP-TAHAP KREATIVITASTahap ini dialami oleh anak pada usai 11 tahun ke atas. Pada tahap ini, menurut Jean Piaget, interaksinya dengan lingkungan sudah amat luas menjangkau banyak teman sebayanya dan bahkan berusaha untuk dapat berinteraksi dengan orang dewasa.
Wallas (Solso, 1991) mengemukakan empat tahapan proses kreatif, yaitu persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi.
1.
Persiapan (Preparation)
2.
Inkubasi (Incubation)
3.
Verifikasi(Verivication)
4.
Iluminasi(Illumination)
5.
KARAKTERISTIK KREATIVITAS
6.
Piers (Adam, 1976) mengemukakan bahwa karakteristik
kreativitas adalah sebagai berikut.
1. Memiliki dorongan (drive) yang tinggi.
2. Memiliki keterlibatan yang tinggi.
3. Memiliki rasa ingin tahu yang besar.
4. Memiliki ketekunan yang tinggi.
5. Cenderung tidak puas terhadap kemapanan.
6. Penuh percaya diri.
7. Memiliki kemandirian yang tinggi.
8. Bebas dalam mengambil keputusan.
9. Menerima diri sendiri
10. Senang humor.
11. Memiliki intuisi yang tinggi
12. Cenderung tertarik kepada hal-hal yang kompleks.
13. Toleran terhadap ambiguitas.
14. bersifat sensitif
MASALAH YANG SERING TIMBUL PADA ANAK KREATIF1. Memiliki dorongan (drive) yang tinggi.
2. Memiliki keterlibatan yang tinggi.
3. Memiliki rasa ingin tahu yang besar.
4. Memiliki ketekunan yang tinggi.
5. Cenderung tidak puas terhadap kemapanan.
6. Penuh percaya diri.
7. Memiliki kemandirian yang tinggi.
8. Bebas dalam mengambil keputusan.
9. Menerima diri sendiri
10. Senang humor.
11. Memiliki intuisi yang tinggi
12. Cenderung tertarik kepada hal-hal yang kompleks.
13. Toleran terhadap ambiguitas.
14. bersifat sensitif
Dedi Supriadi (1994) mengemukakan sejumlah masalah yang sering timbul atau dialami oleh anak-anak kreatif, yaitu sebagai berikut.
1.
Pilihan karier yang tidak realistis
2.
Hubungan dengan guru dan teman sebaya
3.
Perkembangan yang tidak selaras
4. Tiadanya
tokoh-tokoh ideal

Komentar
Posting Komentar