Psikology Perkembangan
1.
Psikologi
perkembangan
Psikologi perkembangan adalah cabang dari ilmu psikologi yang mempelajari
perkembangan dan perubahan aspek kejiwaan manusia sejak dilahirkan sampai dengan mati.
Terapan dari ilmu psikologi perkembangan digunakan di bidang berbagai bidang
seperti pendidikan dan pengasuhan,
pengoptimalan kualitas hidup dewasa tua, penanganan remaja.
Psikologi struktural atau
strukturalisme merupakan studi analitis tentang generalisasi pikiran manusia dewasamelalui
metode introspeksi. Dalam hal ini psikologi dimaksudkan untuk mempelajari isi
(konten) pikiran, sehinggasistem ini kadang juga disebut dengan psikologi
konten.Pendekatan psikologi stukturalisme berasal dari Wilhelm Wundt yang dipelopori di amerika oleh muridnya EdwardBradford Titchener. Perlu
ditekankan bahwa psikologi strukturalisme ditemukan oleh Wundt sedangkan
Titchenerhanyalah satu dari sekian banyak murid yang dimiliki oleh Wundt, tetapi
Titchener-lah yang berupaya membawapsikologi Wundt ke amerika dengan
mempertahankan konsep aslinya.Dalam konsep dan sistem ini. Psikologi strukturalisme dari Wundt
dan Titchener memiliki 3 tujuan :1. Menggambarkan komponen-komponen kesadaran sebagai elemen-elemen dasar,2. Menggambarkan kombinasi kesadaran
sebagai elemen-elemen dasar tersebut, dan3. Menjelaskan hubungan elemen-elemen kesadaran
dengan sistem saraf Kesadaran diatas diartikan
sebagai pengalaman langsung. Pengalaman langsung yaitu pengalaman sebagaimana
halitu dialami. Hal ini berbeda dengan pengalaman antara. Pengalaman antara yaitu diwarnai oleh
isi yang sudah adadalam pikiran, seperti asosiasi sebelumnnya dan kondisi emosional serta
motivasional seseorang.Dengan demikian, pengalaman langsung diasumsikan tidak
dipengaruhi oleh pengalaman antara. Psikologistrukturalisme
berupaya mempertahankan integritas psikologi dengan membedakannya dari
fisika.Fisika mempelajari dunia fisik atau materi, tanpa merujuk pada manusia
dan melalui metode observasional berupainspeksi yang dikendalikan dengan hati-hati.
Psikologi mempelajari dunia, dengan merujuk pada manusia yangmengalami sesuatu,
melalui metode observasional berupa introspeksi terkontrol atas isi kesadaran.Subjek pembahasan yang tepat
bagi psikologi struktural adalah proses kesadaran dan bebas dari
asosiasi. SehinggaWundt dan Titchener berpendapat, psikologi harus terbebas
dari kekuatan metafisika, pikiran awam dankepentingan
kegunaan atau terapan yang akan merusak intergritasnya.Sedangkan metode
eksperimental yang digunakan untuk memastikan ketepatan analisis isi mental
adalahintrospeksi. Teknik pelaporan diri ini merupakan pendekatan klasik untuk
menggambarkan pengalaman pribadi.Sehingga introspeksi hanya akan dianggap valid
jika dilakukan oleh para ilmuwan yang sangat terlatih, bukan olehpengamat awam.Disamping kelemahan
psikologi struktural dalam pandangan fungsionalisme yaitu hanya sekedar mempelajari isi danstruktur yang terlibat dalam proses-proses mental, psikologi struktural memiliki
kontribusi positif dalam bidang ilm
2.
Taksonomi Bloom
Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali disoleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini, tujuan
pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan
setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci
berdasarkan hirarkinya.usun
Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:
1.
Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek
intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
2.
Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek
perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
3.
Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek
keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
Beberapa istilah lain yang juga menggambarkan hal yang sama dengan ketiga
domain tersebut di antaranya seperti yang diungkapkan oleh Ki
Hajar Dewantoro, yaitu: cipta, rasa,
dan karsa. Selain itu, juga dikenal istilah: penalaran, penghayatan, dan
pengamalan.
Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan
subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah
laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku
dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat
yang lebih rendah, seperti misalnya dalam ranah kognitif, untuk mencapai
“pemahaman” yang berada di tingkatan kedua juga diperlukan “pengetahuan” yang
ada pada tingkatan pertama.
SIKLUS
HIDUP
Siklus hidup produk adalah suatu konsep penting yang memberikan pemahaman
tentang dinamika kompetitif suatu produk. Seperti halnya dengan manusia, suatu
produk juga memiliki siklus atau daur hidup. Siklus Hidup Produk (Product Life
Cycle) ini yaitu suatu grafik yang menggambarkan riwayat produk sejak
diperkenalkan ke pasar sampai dengan ditarik dari pasar . Siklus Hidup Produk
(Product Life Cycle) ini merupakan konsep yang penting dalam pemasaran karena
memberikan pemahaman yang mendalam mengenai dinamika bersaing suatu produk. Konsep ini dipopulerkan oleh levitt (1978)
yang kemudian penggunaannya dikembangkan dan diperluas oleh para ahli lainnya.
Ada berbagai pendapatan mengenai tahap – tahap yang ada dalam Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) suatu produk. Ada yang menggolongkannya menjadi introduction, growth, maturity, decline dan termination. Sementara itu ada pula yang menyatakan bahwa keseluruhan tahap – tahap Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) terdiri dari introduction (pioneering), rapid growth (market acceptance), slow growth (turbulance), maturity (saturation), dan decline (obsolescence). Meskipun demikian pada umumnya yang digunakan adalah penggolongan ke dalam empat tahap, yaitu introduction, growth, maturity dan decline.
Menurut Basu Swastha (1984:127-132), daur hidup produk itu di bagi menjadi empat tahap, yaitu :
1. Tahap perkenalan (introduction).
pada tahap ini, barang mulai dipasarkan dalam jumlah yang besar walaupun volume penjualannya belum tinggi. Barang yang di jual umumnya barang baru (betul-betul baru) Karena masih berada pada tahap permulaan, biasanya ongkos yang dikeluarkan tinggi terutama biaya periklanan. Promosi yang dilakukan memang harus agfesif dan menitikberatkan pada merek penjual. Di samping itu distribusi barang tersebut masih terbatas dan laba yang diperoleh masih rendah.
2. Tahap pertumbuhan (growth).
Dalam tahap pertumbuhan ini, penjualan dan laba akan meningkat dengan cepat. Karena permintaan sudah sangat meningkat dan masyarakat sudah mengenal barang bersangkutan, maka usaha promosi yang dilakukan oleh perusahaan tidak seagresif tahap sebelumnya. Di sini pesaing sudah mulai memasuki pasar sehingga persaingan menjadi lebih ketat. Cara lain yang dapat dilakukan untuk memperluas dan meningkatkan distribusinya adalah dengan menurunkan harga jualnya.
3. Tahap kedewasaan (maturity)
Pada tahap kedewasaan ini kita dapat melihat bahwa penjualan masih meningkat dan pada tahap berikutnya tetap. Dalam tahap ini, laba produsen maupun laba pengecer mulai turun. Persaingan harga menjadi sangat tajam sehingga perusahaan perlu memperkenalkan produknya dengan model yang baru. Pada tahap kedewasaan ini, usaha periklanan biasanya mulai ditingkatkan lagi untuk menghadapi persaingan.
4. Tahap kemunduran (decline)
Hampir semua jenis barang yang dihasilkan oleh perusahaan selalu mengalami kekunoan atau keusangan dan harus di ganti dengan barang yang baru. Dalam tahap ini, barang baru harus sudah dipasarkan untuk menggantikan barang lama yang sudah kuno. Meskipun jumlah pesaing sudah berkurang tetapi pengawasan biaya menjadi sangat penting karena permintaan sudah jauh menurun.Apabila barang yang lama tidak segera ditinggalkan tanpa mengganti dengan barang baru, maka perusahaan hanya dapat beroperasi pada pasar tertentu yang sangat terbatas' Altematif-alternatif yang dapat dilakukan oleh manajemen pada saat penjualan menurun antara lain:
a. Memperbarui barang (dalam arti fungsinya).
b. Meninjau kembali dan memperbaiki progrcm pemasaran serta program produksiny a agar lebih efisien.
c. Menghilangkan ukuran, warna, dan model yang kurang baik.
d. Menghilangkan sebagian jenis barang untuk mencapai laba optimum pada barang yang sudah ada.
e. Meninggalkan sama sekali barang tersebut.
Strategi Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle)
Bila Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) dianggap sebagai nilai strategik bagi suatu perusahaan, maka manajernya harus dapat menentukan dimana posisi Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) produknya. Identifikasi tahapan Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) ini dapat ditentukan dengan kombinasi tiga faktor yang menunjukan ciri status produk dan membandingkan hasilnya dengan pola yang umum. Tahap Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) suatu produk dapat ditentukan dengan mengidentifikasikan statusnya dalam market volume, rate of change of market volume.
Dalam keempat tahap dari analisa Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) ini memiliki beberapa strategi (Kotler 1997) yaitu :
1. Tahap Perkenalan (Introduction)
a. Strategi peluncuran cepat (rapid skimming strategy)
Peluncuran produk baru pada harga tinggi dengan tingkat promosi yang tinggi. Perusahaan berusaha menetapkan harga tinggi untuk memperoleh keuntungan yang mana akan digunakan untuk menutup biaya pengeluaran dari pemasaran.
b. Strategi peluncuran lambat (slow skimming strategy)
Merupakan peluncuran produk baru dengan harga tinggi dan sedikit promosi. Harga tinggi untuk memperoleh keuntungan sedangkan sedikit promosi untuk menekan biaya pemasaran.
c. Strategi penetrasi cepat (rapid penetration strategy)
Merupakan peluncuran produk pada harga yang rendah dengan biaya promosi yang besar. Strategi ini menjanjikan penetrasi pasar yang paling cepat dan pangsa pasar yang paling besar.
d. Strategi penetrasi lambat (slow penetration strategy)
Merupakan peluncuran produk baru dengan tingkat promosi rendah dan harga rendah. Harga rendah ini dapat mendorong penerimaan produk yang cepat dan biaya promosi yang rendah.
2. Tahap Pertumbuhan (Growth)
Selama tahap pertumbuhan perusahaan menggunakan beberapa strategi untuk mempertahankan pertumbuhan pasar yang pesat selama mungkin dengan cara:
a. Meningkatkan kualitas produk serta menambahkan keistimewaan produk baru dan gaya yang lebih baik.
b. Perusahaan menambahkan model – model baru dan produk – produk penyerta (yaitu, produk dengan berbagai ukuran, rasa, dan sebagainya yang melindungi produk utama)
c. Perusahaan memasuki segmen pasar baru.
d. Perusahaan meningkatkan cakupan distribusinya dan memasuki saluran distribusi yang baru.
e. Perusahaan beralih dari iklan yang membuat orang menyadari produk (product awareness advertising) ke iklan yang membuat orang memilih produk (product preference advertising)
f. Perusahaan menurunkan harga untuk menarik pembeli yang sensitif terhadap harga dilapisan berikutnya.
3. Tahap Kedewasaan (Maturity)
a. Perusahaan meninggalkan produk mereka yang kurang kuat dan lebih berkonsentrasi sumber daya pada produk yang lebih menguntungkan dan pada produk baru.
b. Memodifikasi pasar dimana perusahaan berusaha untuk memperluas pasar untuk merek yang mapan.
c. Perusahaan mencoba menarik konsumen yang merupakan pemakai produknya.
d. Menggunakan strategi peningkatan keistimewaan (feature improvement) yaitu bertujuan menambah keistimewaan baru yang memperluas keanekagunaan, keamanan atau kenyaman produk.
e. Strategi defensif dimana perusahaan untuk mempertahankan pasar yang mana hasil dari strategi ini akan memodifikasi bauran pemasaran.
f. Strategi peningkatkan mutu yang bertujuan meningkatkan kemampuan produk, misalnya daya tahan, kecepetan, dan kinerja produk.
g. Strategi perbaikan model yang bertujuan untuk menambah daya tarik estetika produk seperti model, warna, kemasan dan lain – lain.
h. Menggunakan take-off strategy yang mana marupakan salah satu strategi yang digunakan untuk mencapai fase penerimaan konsumen baru, strategi ini dapat memperbaharui pertumbuhan pada saat produk masuk dalam kematangan.
4. Tahap Penurunan (Decline)
a. Manambah investasi agar dapat mendominasi atau menempati posisi persaingan yang baik.
b. Mengubah produk atau mencari penggunaan/manfaat baru pada produk
c. Mencari pasar baru
d. Tetap pada tingkat investasi perusahaan saat ini sampai ketidakpastian dalam industri dapat diatasi
e. Mengurangi investasi perusahaan secara selesktif dengan cara meninggalkan konsumen yang kurang menguntungkan.
f. Harvesting strategy untuk mewujudkan pengembalian uang tunai secara cepat
g. Meninggalkan bisnis tersebut dan menjual aset perusahaan.
Ada berbagai pendapatan mengenai tahap – tahap yang ada dalam Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) suatu produk. Ada yang menggolongkannya menjadi introduction, growth, maturity, decline dan termination. Sementara itu ada pula yang menyatakan bahwa keseluruhan tahap – tahap Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) terdiri dari introduction (pioneering), rapid growth (market acceptance), slow growth (turbulance), maturity (saturation), dan decline (obsolescence). Meskipun demikian pada umumnya yang digunakan adalah penggolongan ke dalam empat tahap, yaitu introduction, growth, maturity dan decline.
Menurut Basu Swastha (1984:127-132), daur hidup produk itu di bagi menjadi empat tahap, yaitu :
1. Tahap perkenalan (introduction).
pada tahap ini, barang mulai dipasarkan dalam jumlah yang besar walaupun volume penjualannya belum tinggi. Barang yang di jual umumnya barang baru (betul-betul baru) Karena masih berada pada tahap permulaan, biasanya ongkos yang dikeluarkan tinggi terutama biaya periklanan. Promosi yang dilakukan memang harus agfesif dan menitikberatkan pada merek penjual. Di samping itu distribusi barang tersebut masih terbatas dan laba yang diperoleh masih rendah.
2. Tahap pertumbuhan (growth).
Dalam tahap pertumbuhan ini, penjualan dan laba akan meningkat dengan cepat. Karena permintaan sudah sangat meningkat dan masyarakat sudah mengenal barang bersangkutan, maka usaha promosi yang dilakukan oleh perusahaan tidak seagresif tahap sebelumnya. Di sini pesaing sudah mulai memasuki pasar sehingga persaingan menjadi lebih ketat. Cara lain yang dapat dilakukan untuk memperluas dan meningkatkan distribusinya adalah dengan menurunkan harga jualnya.
3. Tahap kedewasaan (maturity)
Pada tahap kedewasaan ini kita dapat melihat bahwa penjualan masih meningkat dan pada tahap berikutnya tetap. Dalam tahap ini, laba produsen maupun laba pengecer mulai turun. Persaingan harga menjadi sangat tajam sehingga perusahaan perlu memperkenalkan produknya dengan model yang baru. Pada tahap kedewasaan ini, usaha periklanan biasanya mulai ditingkatkan lagi untuk menghadapi persaingan.
4. Tahap kemunduran (decline)
Hampir semua jenis barang yang dihasilkan oleh perusahaan selalu mengalami kekunoan atau keusangan dan harus di ganti dengan barang yang baru. Dalam tahap ini, barang baru harus sudah dipasarkan untuk menggantikan barang lama yang sudah kuno. Meskipun jumlah pesaing sudah berkurang tetapi pengawasan biaya menjadi sangat penting karena permintaan sudah jauh menurun.Apabila barang yang lama tidak segera ditinggalkan tanpa mengganti dengan barang baru, maka perusahaan hanya dapat beroperasi pada pasar tertentu yang sangat terbatas' Altematif-alternatif yang dapat dilakukan oleh manajemen pada saat penjualan menurun antara lain:
a. Memperbarui barang (dalam arti fungsinya).
b. Meninjau kembali dan memperbaiki progrcm pemasaran serta program produksiny a agar lebih efisien.
c. Menghilangkan ukuran, warna, dan model yang kurang baik.
d. Menghilangkan sebagian jenis barang untuk mencapai laba optimum pada barang yang sudah ada.
e. Meninggalkan sama sekali barang tersebut.
Strategi Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle)
Bila Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) dianggap sebagai nilai strategik bagi suatu perusahaan, maka manajernya harus dapat menentukan dimana posisi Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) produknya. Identifikasi tahapan Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) ini dapat ditentukan dengan kombinasi tiga faktor yang menunjukan ciri status produk dan membandingkan hasilnya dengan pola yang umum. Tahap Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) suatu produk dapat ditentukan dengan mengidentifikasikan statusnya dalam market volume, rate of change of market volume.
Dalam keempat tahap dari analisa Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) ini memiliki beberapa strategi (Kotler 1997) yaitu :
1. Tahap Perkenalan (Introduction)
a. Strategi peluncuran cepat (rapid skimming strategy)
Peluncuran produk baru pada harga tinggi dengan tingkat promosi yang tinggi. Perusahaan berusaha menetapkan harga tinggi untuk memperoleh keuntungan yang mana akan digunakan untuk menutup biaya pengeluaran dari pemasaran.
b. Strategi peluncuran lambat (slow skimming strategy)
Merupakan peluncuran produk baru dengan harga tinggi dan sedikit promosi. Harga tinggi untuk memperoleh keuntungan sedangkan sedikit promosi untuk menekan biaya pemasaran.
c. Strategi penetrasi cepat (rapid penetration strategy)
Merupakan peluncuran produk pada harga yang rendah dengan biaya promosi yang besar. Strategi ini menjanjikan penetrasi pasar yang paling cepat dan pangsa pasar yang paling besar.
d. Strategi penetrasi lambat (slow penetration strategy)
Merupakan peluncuran produk baru dengan tingkat promosi rendah dan harga rendah. Harga rendah ini dapat mendorong penerimaan produk yang cepat dan biaya promosi yang rendah.
2. Tahap Pertumbuhan (Growth)
Selama tahap pertumbuhan perusahaan menggunakan beberapa strategi untuk mempertahankan pertumbuhan pasar yang pesat selama mungkin dengan cara:
a. Meningkatkan kualitas produk serta menambahkan keistimewaan produk baru dan gaya yang lebih baik.
b. Perusahaan menambahkan model – model baru dan produk – produk penyerta (yaitu, produk dengan berbagai ukuran, rasa, dan sebagainya yang melindungi produk utama)
c. Perusahaan memasuki segmen pasar baru.
d. Perusahaan meningkatkan cakupan distribusinya dan memasuki saluran distribusi yang baru.
e. Perusahaan beralih dari iklan yang membuat orang menyadari produk (product awareness advertising) ke iklan yang membuat orang memilih produk (product preference advertising)
f. Perusahaan menurunkan harga untuk menarik pembeli yang sensitif terhadap harga dilapisan berikutnya.
3. Tahap Kedewasaan (Maturity)
a. Perusahaan meninggalkan produk mereka yang kurang kuat dan lebih berkonsentrasi sumber daya pada produk yang lebih menguntungkan dan pada produk baru.
b. Memodifikasi pasar dimana perusahaan berusaha untuk memperluas pasar untuk merek yang mapan.
c. Perusahaan mencoba menarik konsumen yang merupakan pemakai produknya.
d. Menggunakan strategi peningkatan keistimewaan (feature improvement) yaitu bertujuan menambah keistimewaan baru yang memperluas keanekagunaan, keamanan atau kenyaman produk.
e. Strategi defensif dimana perusahaan untuk mempertahankan pasar yang mana hasil dari strategi ini akan memodifikasi bauran pemasaran.
f. Strategi peningkatkan mutu yang bertujuan meningkatkan kemampuan produk, misalnya daya tahan, kecepetan, dan kinerja produk.
g. Strategi perbaikan model yang bertujuan untuk menambah daya tarik estetika produk seperti model, warna, kemasan dan lain – lain.
h. Menggunakan take-off strategy yang mana marupakan salah satu strategi yang digunakan untuk mencapai fase penerimaan konsumen baru, strategi ini dapat memperbaharui pertumbuhan pada saat produk masuk dalam kematangan.
4. Tahap Penurunan (Decline)
a. Manambah investasi agar dapat mendominasi atau menempati posisi persaingan yang baik.
b. Mengubah produk atau mencari penggunaan/manfaat baru pada produk
c. Mencari pasar baru
d. Tetap pada tingkat investasi perusahaan saat ini sampai ketidakpastian dalam industri dapat diatasi
e. Mengurangi investasi perusahaan secara selesktif dengan cara meninggalkan konsumen yang kurang menguntungkan.
f. Harvesting strategy untuk mewujudkan pengembalian uang tunai secara cepat
g. Meninggalkan bisnis tersebut dan menjual aset perusahaan.
ALIRAN PSIKOLOGI BEHAVIORISME DAN HOLISME
Psikologi Pendidikan - Tentang Perilaku Individu Peserta
Didik.
Salah satu tugas utama guru adalah berusaha mengembangkan perilaku peserta didiknya. Dalam hal ini, Abin Syamsuddin Makmun (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku peserta didik (behavioral changes). Oleh itu, agar perilaku peserta didik dapat berkembang optimal, tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami tentang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya.
Salah satu tugas utama guru adalah berusaha mengembangkan perilaku peserta didiknya. Dalam hal ini, Abin Syamsuddin Makmun (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku peserta didik (behavioral changes). Oleh itu, agar perilaku peserta didik dapat berkembang optimal, tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami tentang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya.
Untuk memahami perilaku individu dapat
dilihat dari dua pendekatan, yang saling bertolak belakang, yaitu: (1)
behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme. Kedua pendekatan ini memiliki
implikasi yang luas terhadap proses pendidikan, baik untuk kepentingan
pembelajaran, pengelolaan kelas, pembimbingan serta berbagai kegiatan
pendidikan lainnya.
A.
Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behaviorisme
Behaviorisme memandang bahwa pola-pola
perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan penguatan
(reinforcement) dengan mengkondisikan atau menciptakan stimulus-stimulus
(rangsangan) tertentu dalam lingkungan. Behaviorisme menjelaskan mekanisme
proses terjadi dan berlangsungnya perilaku individu dapat digambarkan dalam
bagan berikut :
S >
R atau S > O > R
S =
stimulus (rangsangan); R = Respons (perilaku, aktivitas) dan O=organisme
(individu/manusia).
Karena stimulus datang dari lingkungan (W
= world) dan R juga ditujukan kepadanya, maka mekanisme terjadi dan
berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini :
W >
S > O > R > W
Yang
dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenis
yaitu :
1.
Lingkungan objektif (umgebung=segala
sesuatu yang ada di sekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S).
2.
Lingkungan efektif (umwelt=segala
sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya
sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia
meresponsnya)
Perilaku
yang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan perilaku
spontan.
Contoh
: seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di
ruangan kelas yang terasa panas, secara spontan mahasiswa tersebut
mengipas-ngipaskan buku untuk meredam kegerahannya.
Ruangan
kelas yang panas merupakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi
mahasiswa tersebut (O), secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan
respons (R) yang dilakukan mahasiswa. Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W)
setelah mengipas-ngipaskan buku.
Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan
sebagai berikut:
W >
S > Ow > R > W
Contoh : ketika sedang mengikuti
perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa agak gelap karena
waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung, ada seorang mahasiswa yang sadar
kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan
lampu neon yang ada di ruangan kelas, sehingga di kelas terasa terang dan
mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan.
Ruangan kelas yang gelap, waktu sore hari,
dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W), ada mahasiswa yang sadar akan
keadaan di sekelilingnya (Ow), –meski di ruangan kelas terdapat banyak
mahasiswa namun mereka mungkin tidak menyadari terhadap keadaan sekelilingnya–.
berjalan ke depan, meminta ijin ke dosen, dan menyalakan lampu merupakan
respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sadar tersebut (R), suasana kelas
menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyaman dalam mengikuti perkuliahan
merupakan (W).
Sebenarnya, masih ada dua unsur penting
lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme
proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus)
dan effectors (syaraf, otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R).
Dengan mengambil contoh perilaku sadar
tadi, mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor)
menjadi tidak jelas, sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan
baik. Menggerakkan kaki menuju ke depan, mengucapkan minta izin kepada dosen,
tangan menekan saklar lampu merupakan effector.
B.
Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme)
Holistik atau humanisme memandang bahwa
perilaku itu bertujuan, yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat, motif, tekad)
dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu
perilaku, meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. Holistik
atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa), how (bagaimana), dan why (mengapa). What (apa) menunjukkan kepada tujuan
(goals/incentives/purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu.
How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose),
yakni perilakunya itu sendiri. Sedangkan why(mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya
dan berlangsungnya perilaku (how), baik bersumber dari diri individu itu
sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi
ekstrinsik).
Perilaku
individu diawali dari adanya kebutuhan. Setiap individu, demi mempertahankan
kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya, akan merasakan adanya
kekurangan-kekurangan atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam dirinya. Dalam
hal ini, Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhan-individu secara hierarkis, yaitu:
1.
kebutuhan fisiologikal, seperti : sandang,
pangan dan papan
2.
kebutuhan keamanan, tidak dalam arti
fisik, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual
3.
kebutuhan kasih sayang atau penerimaan
4.
kebutuhan prestise atau harga diri, yang
pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status
5.
kebutuhan aktualisasi diri.
Sementara
itu, Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata,2005) mengetengahkan empat jenis
kebutuhan individu, yaitu:
1.
Kebutuhan berprestasi (need for
achievement), yaitu kebutuhan untuk berkompetisi, baik dengan dirinya atau
dengan orang lain dalam mencapai prestasi yang tertinggi.
2.
Kebutuhan berkuasa (need for power), yaitu
kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang
lain.
3.
Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for
affiliation), yaitu kebutuhan untuk mengikat diri dalam kelompok, membentuk
keluarga, organisasi ataupun persahabatan.
4.
Kebutuhan takut akan kegagalan (need for
fear of failure), yaitu kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau
sesuatu yang menghambat perkembangannya.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya
menjadi dorongan (motivasi) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang
dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan
suatu aktivitas, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri
(motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
Jika
kebutuhan yang serupa muncul kembali maka pola mekanisme perilaku itu akan
dilakukan pengulangan (sterotype behavior), sehingga membentuk suatu
siklus
Berkaitan
dengan motif individu, untuk keperluan studi psikologis, motif individu dapat
dikelompokkan ke dalam 2 golongan, yaitu :
1.
Motif primer (basic motive dan
emergency motive); menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari, dikenal
dengan istilah drive, seperti : dorongan untuk makan, minum, melarikan diri,
menyerang, menyelamatkan diri dan sejenisnya.
2.
Motif sekunder; menunjukkan kepada motif
yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari, seperti :
takut yang dipelajari, motif-motif sosial (ingin diterima, konformitas dan
sebagainya), motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi, manipulasi. minat),
maksud dan aspirasi serta motif berprestasi.
Untuk memahami motivasi individu dapat
dilihat dari indikator-indikatornya, yaitu : (1) durasi kegiatan; (2) frekuensi
kegiatan; (3) persistensi pada kegiatan; (4) ketabahan, keuletan dan kemampuan
dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan; (5) devosi dan pengorbanan untuk
mencapai tujuan; (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang
dilakukan; (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai
dari kegiatan yang dilakukan; (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan.
Dalam
diri individu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan
tertentu. Dengan beragamnya motif yang terdapat dalam individu, adakalanya
individu harus berhadapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa
disebut konflik.
Bentuk-bentuk
konflik tersebut diantaranya adalah :
1.
Approach-approach conflict; jika
individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif
sama-sama kuat, dikehendaki serta bersifat positif.
2.
Avoidance-avoidance conflict; jika
individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif
sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif.
3.
Approach-avoidance conflict; jika
individu dihadapkan pada dua motif atau lebih, yang satu positif dan
dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama
kuatnya.
Jika seorang individu dihadapkan pada
bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami
kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin
yang berkepanjangan.
Dalam pandangan holistik, disebutkan bahwa
dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya, setiap aktivitas yang dilakukan
individu akan mengarah pada tujuan tertentu. Dalam hal ini, terdapat dua
kemungkinan, tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. Jika tercapai
tentunya individu merasa puas dan memperoleh keseimbangan diri (homeostatis).
Namun sebaliknya, jika tujuan tersebut tidak tercapai dan kebutuhannya tidak
terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi disebut frustrasi. Reaksi
individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilakunya, bergantung kepada
akal sehatnya (reasoning, inteligensi). Jika akal sehatnya berani mengahadapi
kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secara sehat dan rasional
(well adjustment). Namun, jika akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana
mestinya, perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya, maka dia akan
mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment).
Bentuk perilaku salah suai (maldjustment),
diantaranya : (1) agresi marah; (2) kecemasan tak berdaya; (3) regresi
(kemunduran perilaku); (4) fiksasi; (5) represi (menekan perasaan); (6)
rasionalisasi (mencari alasan); (7) proyeksi (melemparkan kesalahan kepada
lingkungan); (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang
sejenis); (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di
bidang lain); (10) berfantasi (dalam angan-angannya, seakan-akan ia dapat
mencapai tujuan yang didambakannya).
Di sinilah peran guru untuk sedapat
mungkin membantu para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang
berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai.
Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta
didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi.
Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan
dikemukakan contoh terbentuknya perilaku berdasarkan pendekatan holistik.
Contoh
1 :
Karena
gagal mengikuti mengikuti testing pada salah satu Fakultas di Perguruan Tinggi
ternama melalui jalur UMPTN (frustration), dan setelah mempertimbangkan
segala sesuatunya (moralitas), secara sukarela Arjuna memutuskan untuk
melanjutkan pada salah program studi yang ada di FKIP UNIKU (sublimasi).
Ketika mengikuti perkuliahan Psikologi
Pendidikan yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diikuti para
mahasiswa, sejak awal dia sudah menyadari bahwa dia kekurangan pengetahuan,
sikap dan keterampilannya dalam bidang Psikologi Pendidikan sehingga dia
menyadari Psikologi Pendidikan merupakan kebutuhan bagi dirinya (need felt)
dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives).
Untuk tujuan jangka pendeknya, dengan
berbekal kesadaran diri bahwa dia memiliki potensi dalam bidang psikologi
pendidikan, dia berharap dapat memperoleh kemampuan baru berupa pengetahuan,
sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan psikologi pendidikan, yang
diperolehnya dari setiap pertemuan tatap muka dengan dosen.
Tujuan jangka menengah, pada akhir
semester dia berharap lulus mata kuliah Psikologi Pendidikan dengan mendapatkan
nilai A (kebutuhan harga diri). Selain itu, nanti pada saat mengikuti Program
Praktek Lapangan (PPL), dia berharap dapat melaksanakannya dengan
sebaik-baiknya. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai untuk jangka panjang, dia
benar-benar berharap dapat menjadi guru yang efektif dan kompeten.
Keinginan dan tujuan untuk memperoleh
pengetahuan dan keterampilan dalam bidang psikologi pendidikan, memperoleh
kesuksesan belajar dengan mendapatkan nilai A, memperoleh kesuksesan dalam
mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL), keinginan menjadi guru yang efektif
dan kompeten kemudian berkembang menjadi dorongan yang kuat dalam dirinya
(motivasi intrinsik)
Pada saat mengikuti perkuliahan Psikologi
Pendidikan dia senantiasa aktif bertanya dan mengemukakan pendapatnya tentang
materi yang disampaikan, membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan
yang diwajibkan dan dianjurkan oleh dosen. Setiap tugas yang diberikan
diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu. Dia juga sangat menyukai
diskusi tentang psikologi pendidikan dengan teman-temannya di luar kelas
(perilaku instrumental).
Berkat aktivitas dan kesungguhannya dalam
mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan, dia memperoleh pengetahuan yang
luas, sikap yang positif dan memiliki keterampilan yang bisa dibanggakan dalam
menerapkan prinsip-prinsip psikologi. Pada akhir semester, dia memperoleh nilai
terbaik di kelasnya, pada saat PPL dia termasuk mahasiswa praktikan yang
disukai oleh peserta didiknya, bahkan kepala sekolahnya meminta dia untuk
menjadi guru di sekolah menjadi tempat prakteknya.
Setelah dia selesai kuliah dia menjadi
guru di sebuah sekolah, para peserta didik sangat menyenangi dia karena dia
sangat dekat dan akrab dengan peserta didiknya. Begitu juga, rekan-rekan
seprofesinya sangat hormat dan kagum atas kinerjanya sebagai guru. Pada saat
mengikuti lomba pemilihan guru berprestasi tingkat kabupaten, dia berhasil
meraih sebagai juara pertama.
Dia sangat mensyukuri atas segala
keberhasilannya, baik ketika selama menjadi mahasiswa maupun setelah menjadi
guru (homeostatis). Bagi dirinya, Perkuliahan Psikologi Pendidikan telah
mendasari dia menjadi seorang yang sukses.
Contoh
2 :
Astrajingga rekan seangkatan Arjuna. Dia
bercita-cita menjadi seorang ekonom, karena gagal mengikuti mengikuti testing
pada Fakultas Ekonomi di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration),
kemudian dia dipaksa orang tuanya untuk melanjutkan pada salah satu program
studi di FKIP UNIKU (motivasi ekstrinsik/substitusi), sehingga selama kuliah,
dia belum menemukan apa tujuan kuliahnya.
Dia tidak begitu berminat mengikuti
perkuliahan mata kuliah kependidikan, termasuk mata kuliah Psikologi Pendidikan
(kurang merasakan adanya kebutuhan dan kekurangan motivasi). Pikirannya selalu
terganggu bahwa seolah-olah dia sedang kuliah pada Fakutas Ekonomi di Perguruan
Tinggi yang diidam-idamkannya dan dia merasa seolah-olah bakal menjadi Ekonom
(fantasi). Dia sering tidak masuk kuliah, sekalipun dia masuk kuliah hanya
sebatas takut dimarahi oleh dosen yang bersangkutan dan takut dinyatakan tidak
lulus (kebutuhan rasa aman). Tugas-tugas yang diberikan dosen pun jarang
dikerjakan, kalaupun dikerjakan hanya alakadarnya dan selalu telat disetorkan.
Dia dihadapkan pada perang batin antara terus melanjutkan studi yang tidak
sesuai dengan cita-citanya atau keluar dari kuliah dengan resiko orang tua akan
marah besar terhadap dirinya (conflict).
Selama satu semester mengikuti perkuliahan
Psikologi Pendidikan, dia hanya memperoleh sebagian kecil saja pengetahuan,
sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan dan pada akhirnya dia
dinyatakan tidak lulus dan terpaksa harus mengikuti remedial. Sambil menangis
(regresi), dia menyalahkan dosen bahwa dosennya tidak becus mengajar
(proyeksi).
SIKLUS HIDUP
1.
Siklus daur hidup
produk atau biasa dikenal dengan Product Life Cycle adalah suatu konsep penting
yang memberikan pemahaman tentang dinamika kompetitif suatu produk. Seperti
halnya dengan manusia, suatu produk juga memiliki siklus atau daur hidup.
Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) ini yaitu suatu grafik yang
menggambarkan riwayat produk sejak diperkenalkan ke pasar sampai dengan ditarik
dari pasar . Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) ini merupakan konsep yang
penting dalam pemasaran karena memberikan pemahaman yang mendalam mengenai
dinamika bersaing suatu produk. Konsep ini dipopulerkan oleh levitt (1978) yang
kemudian penggunaannya dikembangkan dan diperluas oleh para ahli lainnya.
Ada berbagai pendapatan mengenai tahap – tahap yang ada dalam Siklus Hidup
Produk (Product Life Cycle) suatu produk. Ada yang menggolongkannya menjadi
introduction, growth, maturity, decline dan termination. Sementara itu ada pula
yang menyatakan bahwa keseluruhan tahap – tahap Siklus Hidup Produk (Product
Life Cycle) terdiri dari introduction (pioneering), rapid growth (market
acceptance), slow growth (turbulance), maturity (saturation), dan decline
(obsolescence). Meskipun demikian pada umumnya yang digunakan adalah
penggolongan ke dalam empat tahap, yaitu introduction, growth, maturity dan
decline.
1. Tahap perkenalan
(introduction).
pada tahap ini, barang mulai dipasarkan dalam jumlah yang besar walaupun
volume penjualannya belum tinggi. Barang yang di jual umumnya barang baru
(betul-betul baru) Karena masih berada pada tahap permulaan, biasanya ongkos
yang dikeluarkan tinggi terutama biaya periklanan. Promosi yang dilakukan
memang harus agfesif dan menitikberatkan pada merek penjual. Di samping itu
distribusi barang tersebut masih terbatas dan laba yang diperoleh masih rendah.
Strategi yang diterapkan:
a.
Strategi peluncuran cepat (rapid skimming strategy)
Peluncuran produk baru pada harga tinggi dengan tingkat promosi yang
tinggi. Perusahaan berusaha menetapkan harga tinggi untuk memperoleh keuntungan
yang mana akan digunakan untuk menutup biaya pengeluaran dari pemasaran.
b. Strategi peluncuran lambat (slow skimming strategy)
Merupakan peluncuran produk baru dengan harga tinggi dan sedikit promosi.
Harga tinggi untuk memperoleh keuntungan sedangkan sedikit promosi untuk
menekan biaya pemasaran.
c. Strategi penetrasi cepat (rapid penetration
strategy)
Merupakan peluncuran produk pada harga yang rendah dengan biaya promosi
yang besar. Strategi ini menjanjikan penetrasi pasar yang paling cepat dan
pangsa pasar yang paling besar.
d. Strategi penetrasi lambat (slow penetration
strategy)
Merupakan peluncuran produk baru dengan tingkat promosi rendah dan harga
rendah. Harga rendah ini dapat mendorong penerimaan produk yang cepat dan biaya
promosi yang rendah.
2. Tahap pertumbuhan (growth).
Dalam tahap pertumbuhan ini, penjualan dan laba akan meningkat dengan
cepat. Karena permintaan sudah sangat meningkat dan masyarakat sudah mengenal
barang bersangkutan, maka usaha promosi yang dilakukan oleh perusahaan tidak
seagresif tahap sebelumnya. Di sini pesaing sudah mulai memasuki pasar sehingga
persaingan menjadi lebih ketat. Cara lain yang dapat dilakukan untuk memperluas
dan meningkatkan distribusinya adalah dengan menurunkan harga jualnya.
Strategi yang diterapkan:
Selama tahap pertumbuhan perusahaan menggunakan beberapa strategi untuk
mempertahankan pertumbuhan pasar yang pesat selama mungkin dengan cara:
a. Meningkatkan kualitas produk serta menambahkan keistimewaan produk baru
dan gaya yang lebih baik.
b. Perusahaan menambahkan model – model baru dan produk – produk penyerta
(yaitu, produk dengan berbagai ukuran, rasa, dan sebagainya yang melindungi
produk utama)
c. Perusahaan memasuki segmen pasar baru.
d. Perusahaan meningkatkan cakupan distribusinya dan memasuki saluran
distribusi yang baru.
e. Perusahaan beralih dari iklan yang membuat orang menyadari produk
(product awareness advertising) ke iklan yang membuat orang memilih produk
(product preference advertising)
f. Perusahaan menurunkan harga untuk menarik pembeli yang sensitif terhadap
harga dilapisan berikutnya.
3. Tahap kedewasaan (maturity)
Pada tahap kedewasaan ini kita dapat melihat bahwa penjualan masih
meningkat dan pada tahap berikutnya tetap. Dalam tahap ini, laba produsen
maupun laba pengecer mulai turun. Persaingan harga menjadi sangat tajam
sehingga perusahaan perlu memperkenalkan produknya dengan model yang baru. Pada
tahap kedewasaan ini, usaha periklanan biasanya mulai ditingkatkan lagi untuk
menghadapi persaingan.
Strategi yang diterapkan:
a. Perusahaan meninggalkan produk mereka yang kurang kuat dan lebih
berkonsentrasi sumber daya pada produk yang lebih menguntungkan dan pada produk
baru.
b. Memodifikasi pasar dimana perusahaan berusaha untuk memperluas pasar
untuk merek yang mapan.
c. Perusahaan mencoba menarik konsumen yang merupakan pemakai produknya.
d. Menggunakan strategi peningkatan keistimewaan (feature improvement)
yaitu bertujuan menambah keistimewaan baru yang memperluas keanekagunaan,
keamanan atau kenyaman produk.
e. Strategi defensif dimana perusahaan untuk mempertahankan pasar yang mana
hasil dari strategi ini akan memodifikasi bauran pemasaran.
f. Strategi peningkatkan mutu yang bertujuan meningkatkan kemampuan produk,
misalnya daya tahan, kecepetan, dan kinerja produk.
g. Strategi perbaikan model yang bertujuan untuk menambah daya tarik
estetika produk seperti model, warna, kemasan dan lain – lain.
h. Menggunakan take-off strategy yang mana marupakan salah satu strategi
yang digunakan untuk mencapai fase penerimaan konsumen baru, strategi ini dapat
memperbaharui pertumbuhan pada saat produk masuk dalam kematangan.
4. Tahap kemunduran (decline)
Hampir semua jenis barang yang dihasilkan oleh perusahaan selalu mengalami
kekunoan atau keusangan dan harus di ganti dengan barang yang baru. Dalam tahap
ini, barang baru harus sudah dipasarkan untuk menggantikan barang lama yang
sudah kuno. Meskipun jumlah pesaing sudah berkurang tetapi pengawasan biaya
menjadi sangat penting karena permintaan sudah jauh menurun.Apabila barang yang
lama tidak segera ditinggalkan tanpa mengganti dengan barang baru, maka
perusahaan hanya dapat beroperasi pada pasar tertentu yang sangat terbatas’
Altematif-alternatif yang dapat dilakukan oleh manajemen pada saat penjualan
menurun antara lain:
a. Memperbarui barang (dalam arti fungsinya).
b. Meninjau kembali dan memperbaiki progrcm pemasaran serta program
produksiny a agar lebih efisien.
c. Menghilangkan ukuran, warna, dan model yang kurang baik.
d. Menghilangkan sebagian jenis barang untuk mencapai laba optimum pada
barang yang sudah ada.
e. Meninggalkan sama sekali barang tersebut.
Strategi yang diterapkan:
a. Manambah investasi agar dapat mendominasi atau menempati posisi
persaingan yang baik.
b. Mengubah produk atau mencari penggunaan/manfaat baru pada produk
c. Mencari pasar baru
d. Tetap pada tingkat investasi perusahaan saat ini sampai ketidakpastian
dalam industri dapat diatasi
e. Mengurangi investasi perusahaan secara selesktif dengan cara
meninggalkan konsumen yang kurang menguntungkan.
f. Harvesting strategy untuk mewujudkan pengembalian uang tunai secara
cepat
g. Meninggalkan bisnis tersebut dan menjual aset perusahaan.
- 2. Holisme
Holisme
menegaskan bahwa organisme selalu berting-kah laku sebagai kesatuan yang utuh,
bukan sebagai rangkaian bagian atau komponen yang berbeda. Jiwa dan tubuh bukan
dua unsur yang terpisah tetapi bagian dari suatu kesatuan, dan Psikologi Kepribadian
apa yang terjadi pada bagian yang satu akan mempengaruhi bagian yang lain.
Pandangan holistik dalam
kepribadian
yang terpenting adalah:
- Kepribadian
normal ditandai dengan unitas, integrasi, konsistensi, dan koherensi.
Organisasi adalah keadaan normal dan disorganisasasi
Adalah
keadaan patologis (sakit)
- Organisme
dapat dianalisis dengan membedakan tiap bagiannya, tetapi tidak ada bagian
yang dapat dipelajari dalam isolasi.
- Organisme
memiliki suatu dorongan yang berkuasa, yaitu aktualisasi diri.
- Pengaruh
lingkungan eksternal pada perkembangan normal bersifat minimal. Potensi
organisme jika bisa terkuak di lingkungan yang tepat akan menghasilkan
kepribadian yang sehat dan integral.
- Penelitian
yang komprehensif terhadap satu orang lebih berguna dari pada penelitian
ekstensif terhadap banyak orang mengenai fungsi psikologis yang diisolasi.

Komentar
Posting Komentar