LAPORAN KKL ZOO INVETEBRATA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan zaman sekarang ini sangat
drastis, banyak terjadi perubahan di berbagai aspek kehidupan baik ekonomi,
sosial, budaya dan teknologi. Untuk mendukung usaha tersebut maka kita harus
memiliki pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan dan keterampilan didapat
dari studi yang dilakukan, riset - riset yang diteliti dan pengalaman yang didapat
sehari-hari. Mahasiswa sebagai insan akademis selama ini hanya terpaku pada
proses pembelajaran secara teoritis. Oleh sebab itulah, banyak mahasiswa yang
pada saat memasuki dunia kerja diragukan kemampuannya oleh instansi yang
dimasukinya. Agar mahasiswa tidak terpaku hanya pada proses pembelajaran secara
teoritis, maka diperlukan suatu metode yang diharapkan mampu untuk memberi
suatu perubahan yang bernilai positif. Sebagai salah satunya adalah program Kuliah Kerja Lapangan ( KKL ). Praktek Kerja ini
mengajarkan pada mahasiswa untuk terjun ke dalam suatu instansi baik instansi
yang bersifat bisnis, pemerintahan bahkan lembaga kesosialan yang ada pada
masyarakat.
Saat ini banyak
orang yang tidak tahu akan pentingnya kehidupan di lingkungan,
mereka lebih mementingkan urusan mereka di bandingkan hal yang akan terjadi
setelah apa yang dilakukan, seperti contoh penangkapan ikan dengan alat
peledak, ini sangat berbahaya bagi ekosistem lautan, terutama ekosistem hewan
di terumbu karang. dengan ini penyusun meneliti Pantai Karapyak yang berada di Desa Bagolo, Kec. Kalipucang, Kab.
Ciamis yang tepatnya
sekitar 20
km dari Pantai Pangandaran atau 78 km dari Alun-alun Kota Ciamis sebagai bahan
penelitian KKL.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas,
penulis tertuju pada produk yang di jadikan sebagai bahan penelitian yaitu hewan yang hidup di pantai karang,
penulis mengidentifikasikan masalahnya sebagai berikut:
1.
Apakah yang dimaksud
dengan Hewan Tak Bertulang belakang
(Avetebrata) dan spesimen apa
saja yang termasuk pada Avetebrata?
2.
Apa saja hewan/ spesimen yang ditemukan di sekitar terumbu karang Pantai Karapyak dan
bagaimana pengklasifikasian dari hewan
yang ada ?
3.
Bagaimanakah
karakteristik serta Tabel
Kladogram dan Tabel Kladistik dari jenis-jenis Spesimen tersebut ?
4.
Bagaimanakah cara membunuh
dan mengawetkan hewan tersebut ?
1.3 Tujuan KKL
Tujuan yang ingin dicapai penyusun dalam Kuliah Kerja
Lapangan ( KKL ) ini adalah:
1) Mengetahui
apa itu hewan yang Avetebrata dan
jenis spesimennya.
2) Mengetahui
hewan apa saja yang hidup di perairan pantai sekitar
karang dan mengetahui lebih jelas kelompok hewan dengan pengklasifikasian.
3)
Mengetahui karakteristik dari jenis-jenis hewan tersebut serta
mengetahui tingkatan hewan melalui Tabel Kladistik dan Tabel Kladogram.
4)
Mengetahui cara
pengawetan hewan dan sebagai contoh kepada peserta didik lanjutan untuk
mengetahui hewan dengan tidak harus mengambil terus dari pantai.
1.4 Manfaat KKL
Manfaat KKL adalah sebagai berikut:
1) Bagi
Mahasiswa
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan di dunia ekosistem terumbu karang sebagai bekal agar dapat menerapkan antara teori yang
diterima di bangku kuliah. serta menambah pengetahuan, pengalaman dan wawasan
mengenai ekosistem, karakteristik, dan
tingkatan hewan yang hidup di sekitar perairan terumbu karang yang berada di
Pantai Karapyak, Desa
Bagolo, Kec. Kalipucang, Kab. Ciamis.
2) Bagi Warga
Lingkungan Pantai Karapyak.
Dapat meninjau kualitas pendidikan di Universitas Galuh Ciamis, memberi masukan dan informasi
yang sesuai, sehingga membantu meningkatkan kemampuan
lulusan yang dibutuhkan untuk meningkatkan peran terhadap dunia pendidikan.
3) Bagi
Universitas Galuh
Ciamis.
Memperoleh
informasi tentang hewan yang hidup di
daerah peraian terumbu karang dan informasi tentang yang harus dilakukan dengan adanya ekosistem yang masih
original dan patut untuk dipertahankan serta mengembangkan ilmu pendidikan
dengan kenyataan yang ada khususnya pada pendidikan pengembangan Ilmu Biologi serta
dapat memperbaiki
kurikulum dan silabus agar dapat
menghasilkan lulusan profesional yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan pendidikan.
4) Bagi Masyarakat
Dapat Memahami sebenarnya tentang pentingnya Ekosistem Perairan terumbu karang. Dan juga memahami dampak
yang akan terjadi apabila Ekosistem terumbu karang rusak. Memahai dasar – dasar
alam
dari mulai langkah – langkahnya sampai syarat – syarat dari pelestarian Ekosistem terumbu karang.
1.5 Metodologi Penelitian
Metodologi yang digunakan pada Praktek Kerja Lapangan adalah “field research” yaitu penelitian yang
dilakukan dengan meninjau dan mengamati secara langsung pada tempat penelitian
untuk mendapatkan data-data yang akurat. Beberapa teknik yang digunakan adalah
seperti berikut:
1. Observasi
yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara megadakan pengamatan
secara langsung pada obyek penelitian yang merupakan sumber data.
2. Interview,
yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan melalui proses Tanya jawab
(wawancara) dengan pihak-pihak yang terkait langsung dengan obyek penelitian.
1.6 Tempat
dan Jadwal Pelaksanaan
a.
Tempat Pelaksanaan
Nama
Pantai : Pantai Karapyak
Alamat :
Desa
Bagolo, Kecamatan Kalipucang
Koordinat : 7 41' 27" S, 108 45' 6" E
Arah : 87 km dari Kota Ciamis ke arah selatan
Informasi Lebih Lanjut: Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata
Koordinat : 7 41' 27" S, 108 45' 6" E
Arah : 87 km dari Kota Ciamis ke arah selatan
Informasi Lebih Lanjut: Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata
Kabupaten
Ciamis Jl. Mr. Iwa
Kusumasumantri
no. 14 Ciamis 46213
b.
Jadwal Pelaksanaan
Pelaksanan
Kuliah Kerja Lapangan dilaksanakan mulai
tanggal 23 Januari sampai dengan 24 Januari 2013.
BAB II
TINJAUAN UMUM
2.1Pantai
Karapyak
Pantai Karapyak merupakan bagian
dari pantai Laut Selatan Jawa yang menawarkan panorama alam yang indah dan
sangat menarik. Dengan pantai yang masih perawan, Anda dapat bersantai sambil
melakukan kegiatan rekreasi seperti memancing, berkemah dan menikmati keindahan
alam sambil berburu ikan kecil dan keong laut yang dapat ditemukan di sekitar
batu karang dengan suasana privasi yang tinggi.
Pantai Karang Nini merupakan obyek wisata yang menawarkan suasana yang sangat nyaman, dengan suasana yang tenang dan damai disertai deburan ombak yang akan selalu menemani Anda selama berada di kawasan objek wisata ini.
Pantai Karang Nini merupakan obyek wisata yang menawarkan suasana yang sangat nyaman, dengan suasana yang tenang dan damai disertai deburan ombak yang akan selalu menemani Anda selama berada di kawasan objek wisata ini.
Ada
sejumlah objek wisata pantai di Kabupaten Ciamis selain Pantai Pangandaran dan
Pantai Batu Hiu. Keindahan alam dan pantai yang satu ini melebihi keindahan
pantai di Pangandaran maupun Batu Hiu. Pantai yang dimaksud adalah Pantai
Karapyak, terletak di Desa Bagolo, Kec. Kalipucang, Kab. Ciamis. Sekitar 20 km
dari Pantai Pangandaran atau 78 km dari Alun-alun Kota Ciamis.
Untuk menuju lokasi ini tidak begitu
sulit, karena akses masuk ke sana sudah bagus, bahkan ada penunjuk jalan yang
bisa mengarahkan wisatawan ke Pantai Karapyak. Yang patut disayangkan, belum
adanya angkutan umum yang bisa membawa pengunjung ke Pantai Karapyak, sekalipun
ojek. Hanya pengunjung yang mempunyai kendaraan pribadi atau kendaraan sewaan
yang bisa mencapai Pantai Karapyak.
Keindahan Pantai Karapyak memang
belum bisa mengalahkan Pantai Pangandaran. Namun bukan berarti tidak layak
dikunjungi dan dijadikan objek wisata. Pantai ini mempunyai kelebihan hamparan
pasir putih yang memanjang sepanjang kurang lebih 5 km dipadu dengan tonjolan
batu karang. Keindahan semakin kentara, ketika ombak laut mulai surut, ikan
hias berenang ke sana kemari di sela-sela batu karang. Kepiting kecil dan kumang
(kepiting berumah) keluar masuk lubang pasir sambil membawa makanan. Tak hanya
itu, cangkang kerang dan hewan moluska lainnya serta karang putih berserakan di
sepanjang pantai, menggoda kita untuk mengambil dan mengumpulkannya untuk
dijadikan suvenir laut.
Batu karang yang menghampar dan
menjorok hampir ke tengah lautan, memang menjadi surga bagi ikan laut. Ada
puluhan ribu bahkan puluhan juta ikan hias yang hidup di sana, jelas membuat
Pantai Karapyak lebih hidup dan menantang. Selain hamparan pasir putih dan batu
karang, pantai ini pun mempunyai tebing-tebing curam nan indah, yang siap
mengundang para petualang untuk menjelajahi tiap jengkal tebing karangnya. Di
bawah tebing curam, deburan ombak siap mengolah adrenalin hingga ubun-ubun.
Buih-buih ombak di bawah tebing curam seolah menanti cucuran keringat
petualangan Anda.
Selain menawarkan sejuta keindahan
dan petualangan, Pantai Karapyak terbilang masih alami dan perawan. Ini
ditandai masih bersihnya pantai dari serbuan sampah plastik maupun sejenisnya.
Kondisi alamnya pun masih alami dan terawat. Hanya sayang, pantai ini kurang
diminati wisatawan domestik maupun mancanegara. Ini terlihat dari masih
jarangnya warung-warung maupun penginapan yang dikembangkan warga setempat.
Hal ini lebih diakibatkan gelombang
ombaknya yang tinggi dan menyeramkan, juga pantainya yang curam karena
terhubung langsung dengan batu-batu karang. Juga kurangnya akses masuk ke
lokasi tersebut. Padahal di Karapyak sudah didirikan menara pengawas pantai
serta sarana lainnya yang siap memanjakan para wisatawan. Terlebih pantai ini
lokasinya sangat dekat Pulau Nusakambangan. Cukup dengan menyewa perahu, Anda
bisa menginjakkan kaki di pulau yang mengundang sejuta misteri ini. Tak hanya
itu, Anda pun bisa berjalan-jalan menyusuri muara Sungai Citanduy atau lebih
dikenal dengan sebutan Sagara Anakan. Jauh di tengah laut, berdiri tegak dua
batu karang yang membentuk pintu masuk ke Sagara Anakan. Menurut nelayan
setempat, Maryono, batu karang tersebut dijadikan benteng pertahanan Dermaga
Sagara Anakan dari serbuan ombak yang ganas.
2.2
Obyek wisata.
Obyek wisata pantai ini merupakan obyek wisata yang
mempunyai suasana yang sangat nyaman, dimana suasana yang tenang dan damai di
sertai deburan ombak akan selalu menemani para pengunjung selama berada di
kawasan obyek wisata ini.
Rutinitas serta aktivitas keseharian yang sangat padat
yang dijalani para pengunjung, akan hilang seketika ketika berkunjung ke daerah
pantai ini. Suasana yang damai, suara ombak yang menderu-deru serta kicauan burung
yang banyak berterbangan semakin menambah kekhusuan kita dalam pentafakuran dan
pengenalan diri kita yang sebenarnya.
2.3 Profil Desa Wisata
Desa/Kelurahan :
Bagolo
Kecamatan/Distrik : Kalipucang
Kabupaten : Ciamis
Contact Person & HP : -
1. Demografi dan Jumlah Penduduk miskin :
a. Jumlah Penduduk : 3.112 Orang
b. Jumlah Kepala Keluarga : 975 Orang
c. Jumlah Warga Pakir miskin : 433 Orang
d. Mata Pencaharian masyarakat
. Petani/buruh tani : 2.178 Orang
. Wiraswasta : 818 Orang
. Nelayan : 116 Orang
2. Potensi pariwisata
a. Daya Tarik Wisata : Hamparan karang dan terumbu karang
Kecamatan/Distrik : Kalipucang
Kabupaten : Ciamis
Contact Person & HP : -
1. Demografi dan Jumlah Penduduk miskin :
a. Jumlah Penduduk : 3.112 Orang
b. Jumlah Kepala Keluarga : 975 Orang
c. Jumlah Warga Pakir miskin : 433 Orang
d. Mata Pencaharian masyarakat
. Petani/buruh tani : 2.178 Orang
. Wiraswasta : 818 Orang
. Nelayan : 116 Orang
2. Potensi pariwisata
a. Daya Tarik Wisata : Hamparan karang dan terumbu karang
sepanjang 1.200 m
b. Seni Budaya : Pencak Silat
c. Jumlah Kunjungan Pertahun ;
. Wisata Nusantara : 12.250 Orang
. Wisata Mancanegara : 275 Orang
3. Jumlah Usaha terkait dengan Pariwisata yang di kembangkan masyarakat
a. Hotel/Penginapan/Homestay : 8 Unit
b. Transportasi/ Angkutan : 2 Unit
c. Rumah Makan/ Warung Makan: 3 Unit
d. Kios Cindramata : -
e. Industri Kerajinan Kecil :-
( Kulit/Kayu/anyaman/Gerabahan/Keramik/Kain/Tenun/Makanan/Souvenir)
f. Lainnya
b. Seni Budaya : Pencak Silat
c. Jumlah Kunjungan Pertahun ;
. Wisata Nusantara : 12.250 Orang
. Wisata Mancanegara : 275 Orang
3. Jumlah Usaha terkait dengan Pariwisata yang di kembangkan masyarakat
a. Hotel/Penginapan/Homestay : 8 Unit
b. Transportasi/ Angkutan : 2 Unit
c. Rumah Makan/ Warung Makan: 3 Unit
d. Kios Cindramata : -
e. Industri Kerajinan Kecil :-
( Kulit/Kayu/anyaman/Gerabahan/Keramik/Kain/Tenun/Makanan/Souvenir)
f. Lainnya
: -
4. Sarana dan Prasarana Pendukung Kepariwisataan di
4. Sarana dan Prasarana Pendukung Kepariwisataan di
Desa/Kelurahan/Kampung
:
a. MCK
b. Mushola
5. Program apa saja yang telah dilaksanakan dalam rangka pemangunan pariwisata di desa wisata olah pemerintah, pihak swasta maupun swadaya masyarakat
a. Pembangun abrasi pantai: Belum semua di bangun
b. Taman Pantai : Belum dibangun
c. Gaseg : Belum dibangun
d. Papan Informasi : Belum maksimal
6. Kendala dan permasalahan dalam pengembangan wisata
a. Tidak ada bantuan dari pemerintah maupun pehak ke tiga
a. MCK
b. Mushola
5. Program apa saja yang telah dilaksanakan dalam rangka pemangunan pariwisata di desa wisata olah pemerintah, pihak swasta maupun swadaya masyarakat
a. Pembangun abrasi pantai: Belum semua di bangun
b. Taman Pantai : Belum dibangun
c. Gaseg : Belum dibangun
d. Papan Informasi : Belum maksimal
6. Kendala dan permasalahan dalam pengembangan wisata
a. Tidak ada bantuan dari pemerintah maupun pehak ke tiga
BAB III
URAIAN KEGIATAN
3.1 Turun Kelaut
Untuk
mengetahui apa saja yang hidup dilaut kita harus terjun langsung kelaut,
khususnya dalam mata kuliah ini yaitu Zoology Invetebrata kita harus mengambil
dan menemukan hewan yang tak bertulang belakang seperti hewan yang berfilum Molusca, Artrophoda, Porifera,
Coelenterata, Platyhelminthes, Nemathelminthes, Annelida dan Echinodermata.
Selain itu kita juga harus menentukan dan melihat jenis- jenis karang tersebut.
3.2 Penyisiran Terumbu
Karang
Pada bagian ini kita mulai mencari hewan- hewan yang
hidup disekitar terumbu karang saat air laut surut, dan di bagian ini kita
melihat banyak jenis karang dan banyak hewan yang bersarang di dalamnya seperti
Kepiting laut ( Crustaceae ).
3.3
Pengambilan hewan
Cara
pengambilan hewan harus dengan hati-hati karena banyak hewan seperti Asterias forbesi dan Holothuria atra serta hewan yang berfilum Echinodermata lainnya bertubuh lunak, kalau
saja tidak hati-hati maka hewan tersebut akan robek dan mengeluarkan isi tubuh
atau organ dalamnya, pengambilan hewan juga sangat tidak di sarankan untuk
berlebihan, artinya kita harus membawa 1 saja untuk setiap spesimen, walaupun
dibilang lokasi pantai Karrapyak merupakan Pantai dengan Terumbu karang yang
masih perawan atau Original, namun untuk pencarian spesimen sedikit sulit,
entah itu pengaruh dari pasang surut air laut atau sudah mulai langkanya
hewan-hewan tersebut.
3.4 Pengelompokan
hewan
Ini adalah proses ahir dari penelitian, Setelah mencari
spesimen, kita mengelompokan hewan tersebut dan memberi karakteristik,
menklasifikasi dan memberi tingkatan kemajuan pada organ dengan membuat tabel
Kladistik dan Kladogram dari hasil
perbedaan karakteristik hewan-hewan tersebut.
|
PEMBAHASAN
4.1
Hewan Tak Bertulang Belakang ( Avetebrata
)
Dunia hewan, berdasarkan ada tidaknya tulang belakang
dikelompokkan menjadi hewan bertulang belakang (vertebrata) dan hewan tak
bertulang belakang (Avertebrata). Kelompok hewan avertebrata mempunyai
ciri-ciri tidak bertulang belakang, susunan syaraf terletak di bagian ventral
(perut) di bawah saluran pencernaan, umumnya memiliki rangka luar
(eksoskeleton) dan otak tidak dilindungi oleh tengkorak.
Berikut
adalah kelompok hewan yang termasuk avertebrata :
4.1.1
Porifera
(Latin: porus =
pori,fer = membawa) atau spons atau hewan
berpori adalah sebuah filum untuk hewan multiseluler yang paling
sederhana. Porifera hidup secara heterotrof. Makanannya adalah bakteri dan
plankton. Makanan yang masuk ke tubuhnya dalam bentuk cairan sehingga porifera
disebut juga sebagai pemakan cairan. Habitat porifera umumnya di
laut.
Contoh
: Sycon, Clathrina, Euspongia, Spongia

4.1.2
Coelenterata (Hewan Berongga)
Coelenterata (dalam bahasa yunani, coelenteron = rongga)
adalah invertebrata yang memiliki rongga tubuh.Rongga tubuh tersebut berfungsi
sebagai alat pencernaan (gastrovaskuler).Coeleanterata disebut juga Cnidaria
(dalam bahasa yunani, cnido = penyengat) karena sesuai dengan cirinya yang
memiliki sel penyengat.Sel penyengat terletak pada tentakel yang terdapat
disekitar mulutnya.
Coelenterata memiliki struktur tubuh yang lebih kompleks.Sel-sel Coelenterata sudah terorganisasi membentuk jaringan dan fungsi dikoordinasi oleh saraf sederhana.
Coelenterata memiliki struktur tubuh yang lebih kompleks.Sel-sel Coelenterata sudah terorganisasi membentuk jaringan dan fungsi dikoordinasi oleh saraf sederhana.
Contoh:
hydra, koral, polip dan jellyfish atau ubur-ubur.

4.1.3
Platyhelminthes (cacing pipih)
Platyhelminthes
adalah binatang sejenis cacing pipih dengan simetri tubuh simetris bilateral
tanpa peredaran darah dengan pusat syarah yang berpasangan. Cacing pipih
kebanyakan sebagai biang timbulnya penyakit karena hidup sebagai parasit pada
binatang / hewan atau manusia.
Contoh
dari cacing pipih antara lain :
·
cacing getar : planaria
·
cacing pita : Taenia saginata (cacing pita sapi),
Taenia solium (cacing pita babi), Echinococcus granulosum (cacing pita anjing)
·
cacing isap : cacing hati (Fasciola hepatica)

4.1.4
Nemathelminthes (Cacing gilig)
Nemathelminthes atau cacing gilik / gilig adalah hewan yang
memiliki tubuh simetris bilateral dengan saluran pencernaan yang baik namun
tiak ada sistem peredaran darah.
Contoh : cacing perut (Ascaris
lumbricoides), cacing kremi (Oxyuris vermicularis), cacing tambang (Ancylostoma
duodenale) , cacing filaria (Wuchereria bancrofti).

4.1.5
Annelida (Cacing Gelang)
Annelida adalah cacing gelang dengan tubuh yang terdiri atas
segmen-segmen dengan berbagai sistem organ tubuh yang baik dengan sistem
peredaran darah tertutup. Annelida sebagian besar memiliki dua kelamin
sekaligus dalam satu tubuh atau hermafrodit.
Contoh : cacing tanah (Lumbricus
terrestris), cacing wawo, cacing palolo, lintah (Hirudo medicinalis)
dan pacet (Haemodipsa)

4.1.6
Mollusca (Hewan bertubuh lunak)
Mollusca adalah hewan bertubuh lunak tanpa segmen dengan
tubuh yang lunak dan biasanya memiliki pelindung tubuh yang berbentuk cangkang
atau cangkok yang terbuat dari zat kapur untuk perlindungan diri dari serangan
predator dan gangguan lainnya. Hidup di air laut, air tawar dan di darat.
Contoh : kerang, , gurita, cumi-cumi, sotong, siput darat,
siput laut, chiton.

4.1.7
Echinodermata (Hewan berkulit duri)
Echinonermata adalah binatang berkulit duri yang hidup di
wilayah laut dengan jumlah lengan lima buah bersimetris tubuh simetris radial.
Beberapa organ tubuh echinodermata sudah berkembang dengan baik. Tubuh ditutupi
duri yang tersusun atas zat kapur, memiliki daya regenerasi yang tinggi, hidup
di laut, berkembang biak secara kawin yang pembuahannya diluar tubuh.
Contoh :s
Bintang laut (Asteroidea), Landak laut (Echinoidea), Bintang
ular (Ophiuroidea), lili laut (Crinoidea), teripang (Holothuroidea).

4.1.8
Arthropoda (Hewan Berbuku-buku)
Arthropoda adalah hewan dengan kaki beruas-ruas dengan
sistem saraf tali dan organ tubuh telah berkembang dengan baik. Tubuh artropoda
terbagi atas segmen-segmen yang berbeda dengan sistem peredaran darah terbuka.
Arthropoda
dibagi menjadi 4 kelas, yaitu :
a. Insecta (Serangga)
Insecta adalah kelompok utama dari
hewan beruas (Arthropoda) yang bertungkai enam (tiga pasang); karena itulah
mereka disebut pula Hexapoda (dari bahasa Yunani yang
berarti “berkaki enam”)
Contoh
: kecoa, kupu-kupu, nyamuk, lalat

b. Crustaceae (Udang-udangan)
Mayoritas merupakan hewan air, baik air tawar maupun laut,
walaupun beberapa kelompok telah beradaptasi dengan kehidupan darat, seperti
kepiting darat. Kebanyakan anggotanya dapat bebas bergerak, walaupun beberapa
takson bersifat parasit dan hidup dengan menumpang pada inangnya.
Tubuh Crustacea terdiri
atas dua bagian, yaitu kepala dada yang menyatu (sefalotoraks) dan perut atau
badan belakang (abdomen). Bagian sefalotoraks dilindungi oleh kulit keras yang
disebut karapas dan 5 pasang kaki yang terdiri dari 1 pasang kaki capit
(keliped) dan 4 pasang kaki jalan. Selain itu, di sefalotoraks juga terdapat
sepasang antena, rahang atas, dan rahang bawah. Sementara pada bagian abdomen
terdapat 5 pasang kaki renang dan di bagian ujungnya terdapat ekor. Pada udang
betina, kaki di bagian abdomen juga berfungsi untuk menyimpan telurnya.
Contoh : kepiting, ketam, udang

c. Arachnoidea (Laba-laba)
Laba-laba, atau disebut juga
labah-labah, adalah sejenis hewan berbuku-buku (arthropoda) dengan dua
segmen tubuh,empat pasang kaki, tak bersayap dan tak memiliki mulut
pengunyah. Laba-laba merupakan hewan pemangsa (karnivora), bahkan kadang-kadang
kanibal. Mangsa utamanya adalah serangga.
Tidak semua laba-laba membuat jaring
untuk menangkap mangsa, akan tetapi semuanya mampu menghasilkan benang sutera
–yakni helaian serat protein yang tipis namun kuat– dari kelenjar
(disebut spinneret) yang terletak di bagian belakang tubuhnya.
Serat sutera ini amat berguna untuk membantu pergerakan laba-laba, berayun dari
satu tempat ke tempat lain, menjerat mangsa, membuat kantung telur, melindungi
lubang sarang, dan lain-lain.
Contoh : kalajengking, laba-laba, kutu buku.

d. Myriapoda (Lipan)
Kelabang
adalah hewan yang memiliki sepasang kaki di setiap ruas tubuhnya. Hewan ini
termasuk hewan yang berbisa, dan termasuk hewan nokturnal (beraktivitas di
malam hari).
Contoh
: lipan (kelabang), luwing (kaki seribu)

4.2 Hewan yang ditemukan
Hewan yang ditemukan dari berbagai macam Filum.
4.2.1
Filum
Echinodermata
Echinodermata berasal dari kata echinos yang
berarti landak/duri dan derma berarti kulit. Jadi, Echinodermata
berarti hewan yang kulitnya berduri. Semua Echinodermata hidup di laut. Ada
lebih dari 5.000 spesies dalam filum ini, seperti bintang laut, sea urchin, dan
timun laut. Echinodermata sama seperti Mollusca, memiliki coelom dan sistem
pencernaannya sudah lengkap. Umumnya Echinodermata memiliki tubuh simetri
radial. Selama perkembangannya, Echinodermata melewati tahapan larva
bipinnaria. Bipinnaria memiliki bentuk simetri bilateral. Selain bipinnaria,
dua ciri unik Echinodermata lainnya adalah sistem kaki tabung dan
endoskeletonnya. Kaki tabung (tube feet) digunakan untuk bergerak dan
mendapatkan makanan. Kaki tabung ini digerakkan oleh sistem pompa air tabung
yang unik. Endoskeleton Echinodermata melindungi dan menyokong jaringan hewan
yang lunak. Endoskeleton terbuat dari kalsium yang terbentuk di jaringan
sebelum epidermis. Hewan Echinodermata habitatnya di laut, biasanya bersifat
sesil atau menetap. Makanannya berupa sisa organisme yang telah mati atau
organisme lain yang lebih kecil.
Sebagian besar Echinodermata merupakan
hewan yang bergerak lamban dengan simetri tubuh radial. Bagian internal hewan
ini menjalar dari pusat menuju lengan-lengan yang berjumlah lima. Kulit tipis
menutupi eksoskeleton keras yang terbuat dari zat kapur. Sebagian besar
Echinodermata merupakan hewan berbulu kasar karena adanya tonjolan kerangka
dari duri yang memiliki berbagai fungsi. Yang khas pada filum ini adalah
struktur pembuluh air (water vascular system), yaitu suatu jaringan
hidrolik yang bercabang menjadi penjuluran, disebut kaki tabung yang berfungsi
untuk lokomosi (pergerakan), makan dan pertukaran gas. Echinodermata adalah
hewan triploblastik selomata. Gerakan Echinodermata lambat dan
gerakannya menggunakan kaki pembuluh (kaki ambulakral).
Spesimen
Echinodermata di Pantai Karapyak :
a. Teripang
Teripang atau
trepang atau timun laut adalah istilah yang
diberikan untuk hewan invertebrata Holothuroidea yang dapat dimakan. Ia
tersebar luas di lingkungan laut di seluruh dunia, mulai dari zona pasang surut
sampai laut dalam terutama di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Barat.
Teripang
adalah hewan yang bergerak lambat, hidup pada dasar substrat pasir, lumpur pasiran maupun dalam lingkungan terumbu.
Teripang merupakan komponen penting dalam rantai makanan di terumbu karang dan ekosistem asosiasinya pada berbagai tingkat
struktur pakan (trophic levels)
b. Landak
laut
Landak laut atau
disebut juga bulu babi (Echinoidea) merupakan hewan yang biasanya hidup
di 1. daerah pantai 2. atas batu karang 3. dasar laut 4. dalam lumpur 5.
sumur-sumuran daerah pantai 6. muara sungai (dengan membenamkan diri di tanah
liat atau di bawah karang)
Hewan-hewan yang termasuk kelas ini berbentuk bundar tak berlengan, tetapi memilki duri yang dapat digerakkan.
Bulu babi atau urchin adalah binatang kecil, berbentuk bulat, bertulang belakang, yang merupakan bagian dari kelas Echinoidea. Bulu babi ditemukan seluruh samudra di dunia. Kulit atau "Test", mebentuk putaran dan bertulang belakang, secara khas dari 3 sampai 10 cm berhadapan. Warna umum hitam dan paduan dari hijau olive,, zaitun, coklat, ungu, dan merah. Pergerakkan pelan, Makanan kebanyakan dari ganggang. Berang-Berang Laut, Ikan belut Serigala, dan pemangsa lain merupakan predator bulu babi. Bulu babi juga dipanen oleh manusia dan rusa kecil sebagai makan yang lezat.
Hewan-hewan yang termasuk kelas ini berbentuk bundar tak berlengan, tetapi memilki duri yang dapat digerakkan.
Bulu babi atau urchin adalah binatang kecil, berbentuk bulat, bertulang belakang, yang merupakan bagian dari kelas Echinoidea. Bulu babi ditemukan seluruh samudra di dunia. Kulit atau "Test", mebentuk putaran dan bertulang belakang, secara khas dari 3 sampai 10 cm berhadapan. Warna umum hitam dan paduan dari hijau olive,, zaitun, coklat, ungu, dan merah. Pergerakkan pelan, Makanan kebanyakan dari ganggang. Berang-Berang Laut, Ikan belut Serigala, dan pemangsa lain merupakan predator bulu babi. Bulu babi juga dipanen oleh manusia dan rusa kecil sebagai makan yang lezat.
c.
Bintang
laut
Walaupun
dalam bahasa Inggris ia dikenal dengan sebutan starfish, hewan ini sangat jauh
hubungannya dengan ikan.
Bintang laut merupakan hewan invertebratayang termasuk dalam filum Echinodermata, dan kelas Asteroidea.
Bintang laut merupakan hewan simetri
radial dan
umumnya memiliki lima atau lebih lengan. Bintang laut tidak memiliki rangka
yang mampu membantu pergerakan. Rangka mereka berfungsi sebagai perlindungan.
d.
Lilia Laut
Hewan ini mirip
tumbuhan, karena bentuknya menyerupai bunga lili. Kulitnya tersusun dari zat
kitin. Biasanya melekat pada dasar perairan. Jika lingkungsn tidak
memungkinkan, misalnya makanan habis atau keselamatannya terancam, ia akan
pindah ke tempat lain yang sesuai dan aman. Kelompok hewan ini juga sering
disebut bintang bulu.
Juga dikenal sebagai lili laut atau lilia laut yaitu hewan yang mempunyai lengan bercabang serta anus dan mulut berada di permukaan oral, kaki tabungnya tidak mempunyai saluran penghisap. dan alur ambulakranya terbuka,tidak memiliki madreporit, duri ataupun pedicillariae
Juga dikenal sebagai lili laut atau lilia laut yaitu hewan yang mempunyai lengan bercabang serta anus dan mulut berada di permukaan oral, kaki tabungnya tidak mempunyai saluran penghisap. dan alur ambulakranya terbuka,tidak memiliki madreporit, duri ataupun pedicillariae
4.2.2
Filum Artrophoda
Arthropoda berasal dari bahasa Yunani,
arthos yang artinya segmen/ruas dan poda yang artinya kaki. Jadi, Arthropoda adalah hewan berkaki ruas. Semua jenis
hewan yang termasuk filum arthropoda memiliki tubuh dan kaki yang berruas-ruas.
Tubuhnya tertutup dengan kitin sebagai rangka luarnya.
Filum Arthropoda adalah filum yang paling besar dalam
dunia hewan dan mencakup serangga, laba-laba, udang, lipan dan hewan mirip
lainnya. Arthropoda adalah nama lain hewan berbuku-buku.
Empat dari lima bagian dari spesies hewan adalah Arthropoda, dengan jumlah di
atas satu juta spesies modern yang ditemukan dan rekor fosil yang mencapai awal
Cambrian. Arthropoda biasa ditemukan di laut, air tawar,
darat, dan lingkungan udara, serta termasuk berbagai bentuk simbiotis dan
parasit. Hamper 90% dari seluruh jenis hewan yang diketahui orang adalahArthropoda. Arthropoda dianggap berkerabat dekat dengan Annelida, contohnya adalahPeripetus di Afrika Selatan.
Spesimen Filum Antrophoda di Pantai Karapyak
·
Crustaceae (Udang-udangan)
Mayoritas
merupakan hewan air, baik air tawar maupun laut, walaupun beberapa kelompok
telah beradaptasi dengan kehidupan darat, seperti kepiting darat. Kebanyakan
anggotanya dapat bebas bergerak, walaupun beberapa takson bersifat parasit dan
hidup dengan menumpang pada inangnya.
Tubuh Crustacea terdiri atas dua bagian,
yaitu kepala dada yang menyatu (sefalotoraks) dan perut atau badan belakang
(abdomen). Bagian sefalotoraks dilindungi oleh kulit keras yang disebut karapas
dan 5 pasang kaki yang terdiri dari 1 pasang kaki capit (keliped) dan 4 pasang
kaki jalan. Selain itu, di sefalotoraks juga terdapat sepasang antena, rahang
atas, dan rahang bawah. Sementara pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki
renang dan di bagian ujungnya terdapat ekor. Pada udang betina, kaki di bagian
abdomen juga berfungsi untuk menyimpan telurnya. Contoh : kepiting
4.2.3
Fillum Mollusca
Mollusca berasal dari bahasa latin yaitu molluscus yang artinya lunak. Jadi Filum Mollusca adalah
kelompok hewan invretebrata yang memiliki tubuh lunak. Tubuh lunaknya itu
dilindungi oleh cangkang, meskipun ada juga yang tidak bercangkang.
Spesimen
Filum Mollusca di Pantai Karapyak
·
Kerang
(Anadara sp)
Kerang
(Anadara sp) adalah hewan air yang termasuk hewan
bertubuh lunak (moluska). Pengertian kerang bersifat umum dan tidak memiliki
arti secara biologi namun penggunaannya luas dan dipakai dalam kegiatan
ekonomi.
Dalam pengertian paling luas, kerang
berarti semua moluska dengan sepasang cangkang. Dengan pengertian ini,
lebih tepat orang menyebutnya kerang-kerangan dan sepadan dengan articlam yang
dipakai di Amerika. Contoh pemakaian seperti ini dapat dilihat pada istilah
"kerajinan dari kerang".
Kata kerang dapat pula berarti semua
kerang-kerangan yang hidupnya menempel pada suatu obyek. Ke dalamnya termasuk
jenis-jenis yang dapat dimakan, seperti kerang darah dan kerang hijau (kupang
awung), namun tidak termasuk jenis-jenis yang dapat dimakan tetapi menggeletak
di pasir atau dasar perairan, seperti lokan dan remis.
Kerang juga dipakai untuk menyebut
berbagai kerang-kerangan yang bercangkang tebal, berkapur, dengan pola radial
pada cangkang yang tegas. Dalam pengertian ini, kerang hijau tidak termasuk di
dalamnya dan lebih tepat disebut kupang. Pengertian yang paling mendekati dalam
bahasa Inggris adalah cockle. Dalam pengertian yang paling sempit,
yang dimaksud sebagai kerang adalah kerang darah (Anadara granosa),
sejenis kerang budidaya yang umum dijumpai di wilayah Indo-Pasifik dan banyak
dijual di warung atau rumah makan yang menjual hasil laut.
4.2.4
Filum Porifera
Porifera
adalah hewan berpori , phorus : lubang kecil atau pori, dan ferre : mempunyai. Sering disebut juga
hewan spon (sponge) Pori-pori yang terdapat dalam tubuh Porifera terbentuk
karena pada tubuh porifera terdapat kanal atau saluran air untuk
mensirkulasikan air dalam tubuhnya.
Spesimen Filum
Porifera di Pantai Karapyak
a)
Sycon
Sycon adalah genus dari spons
berkapur milik keluarga
Sycettidae. Ini spons kecil, tumbuh sampai
dengan 7,5 cm dan memiliki
panjang dari 2,5 to7.5,
dan berbentuk tabung dan sering putih untuk krim
dalam warna.
b)
Clathrina
Clathrina clathrus adalah spesies
spons berkapur milik keluarga
Clathrinidae. Spons ini (kadang-kadang putih) kuning, hingga diameter 10 cm,
biasanya muncul berbentuk bantal pada jarak (dekat relatif Clathrina coriacea
biasanya datar dalam penampilan). Close-up spons dapat dilihat terdiri dari
massa kusut tabung (tabung ini lebih tebal dan kurang erat daripada di C.
coriacea dan ada osculum ada seperti yang ditemukan pada spesies yang). Seperti
C. coriacea, para spikula secara eksklusif tiga menunjuk triactines.
c)
Euspongia
Genus khas spons fibrosa keluarga Spongiidae,
memiliki kerangka yang sangat elastis dan homogen seluruh. Ini berisi biasa
mandi spons, biasanya diletakkan di Spongia.
d)
Spongia
Spongia adalah genus hewan laut,
awalnya digambarkan oleh Linnaeus pada 1759. Beberapa spesies, termasuk
officinalis Spongia digambarkan, digunakan sebagai alat pembersih, tapi
sebagian besar telah digantikan dalam penggunaan oleh bahan sintetis atau
tanaman.
4.3
KLASIFIKASI
4.3.1
Filum Echinodermata
a.
Tripang
Cucumaria frondosa
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Echinodermata
Class
: Holothuroidea
Order
: Dendrochirotida
Family
: Cucumariidae
Genus
: Cucumaria
Species
: Cucumaria frondosa
Nama daerah: Teripang / Timun Laut
b. Landak
Laut
arbacia punctulata
Kingdom : Animalia
Phylum
: Echinodermata
Class
: Echinoidea
Subclass : Euechinoidea
Family : Echinidae
Genus : Echinaceae
Species
: arbacia punctulata
Nama daerah : Landak Laut/ Bulu Babi
c. Bintang
Laut
Asteroidea sp
Kingdom
: Animalia
Phylum : Echinodermata
Class : Asteroidea
Genus : Asteroidea
Spesies : Asteroidea
sp
Nama
Daerah : Bintang Laut
d. Lilia
Laut
Phylum
: Echinodermata
Kelas : Crinoidea
Subkelas : Euchinoidea
Ordo : Comatulida
Famili : Antedonidae
Genus : Antedon
Spesies : Antedon mediterranea
Kelas : Crinoidea
Subkelas : Euchinoidea
Ordo : Comatulida
Famili : Antedonidae
Genus : Antedon
Spesies : Antedon mediterranea
Nama
Daerah : Lilia Laut
Tabel Klasifikasi
|
No.
|
Nama Daerah
|
Nama Latin
|
Kelas
|
Filum
|
|
1
|
Tripang
|
Cucumaria frondosa
|
Echinodermata
|
|
|
2
|
Bulu Babi
|
Echinoida
|
Echinodermata
|
|
|
3
|
Bintang Laut
|
Asteroidea
sp
|
Asteroidea
|
Echinodermata
|
|
4
|
Lilia Laut
|
Crinoidea
|
Echinodermata
|
4.3.2
Filum Arthropoda
·
Kepiting
Scylla Serrata
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Spesies : Scylla Serrata
Nama Daerah : Kepiting
4.3.3
Filum Mollusca
·
Kerang
Anadara sp
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Bivalvia
Order : Veneroida
SubOrder : Cardioidea
Familly : Cardiidae
Spisies : Anadara sp
Nama
Daerah : Kerang
4.3.4
Filum Porifera
Tabel Klasifikasi
|
No
|
Nama Latin
|
Kelas
|
Filum
|
|
1
|
Sycon
|
Porifera
|
|
|
2
|
Clathrina
|
Porifera
|
|
|
3
|
Euspongia
|
Porifera
|
|
|
4
|
Spongia
|
Porifera
|
4.4
Tabel Karakteristik, Kladistik dan Kladogram
4.4.1
Filum Echinodermata
Karakteristik Lilia Laut, Landak
Laut, Bintang Laut, Tripang
|
Karakteristik
|
Lilia
Laut
|
Tripang
|
Landak
Laut
|
Bintang
Laut
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
Duri
|
Tak
punya :pediselaria dan duri
|
Tidak
Punya : lengan, pediselaria, dan duri
|
Pediselaria
|
Pediselaria
(pelindung insang kulit, menangkap makanan, pembersih tubuh)
|
|
Sistem
ambulakral
|
Tak
punya madreporit
|
Vesikula
poli = perluasan system ambulakral
|
Sama
dengan Asteroidea
|
Madreporit
saluran batu saluran gelang badan tiedemann-4 buah gelembung poli, saluran
radial, saluran transversal,ampulla, kaki tabung, alat gerak
|
|
Sistem
pencernaan makanan
|
Mulut-esofagus-usus-anus,mulut
dan anus berdekatan
|
Mulut-esofagus-lambung-usus-kloaka-anus
|
Gigi,
mulut-lentera Aristotle-esofagus-lambung-usus-anus
|
Mulut-esofagus-lambung
kardia-lambung pilorik-anus, kelenjar pencernaan
|
|
System
syaraf
|
Cincin
syaraf, syaraf radial
|
Cincin
syaraf Oral, 5 syaraf radial
|
Cincin
syaraf mulut, 5 syaraf radial, pleksus subepidermal
|
Ektoneural-hyponeural-aboral
|
|
Organ
sensoris
|
Terbelakang
+primitive
|
Menerima
ransangan sentuhan-membedakan gelap dan terang, statotista
|
Podia,
duri, pediselaria
|
Taktil
( peraba ), bintik mata ( membedakan gela danterang
|
|
System
reproduksi
|
Terpisah,
larva = doliolaria
|
Terpisah,
hermaprodit, larva= auricularia
|
Terpisah,
lubang genita, larva= pluteus
|
Terpisah,
fertilisasi eksternal, larva= bipinaria
|
|
Regenerasi
|
Tinggi
|
Tinggi
|
Tinggi
|
Paling
tinggi
|
|
Alat
gerak
|
-
|
-
|
-
|
Lengan
|
|
System
respirasi
|
Podia
|
Tentakel-kaki
tabung-dinding tubuh- kloaka- pohon respirasi
|
10
buah kantung (modifikasi podia)
|
Difusi
melalui seluruh permukaan tubuh, kaki tabung, papulae
|
Tabel Kladistik Lilia Laut, Landak
Laut, Bintang Laut, Tripang
|
Karakteristik
|
Lilia
Laut
|
Tripang
|
Bintang
Laut
|
Landak
Laut
|
|
Organ sensoris: Duri
|
0
|
0
|
0
|
1
|
|
Organ
sensoris: Pediselaria
|
0
|
0
|
0
|
1
|
|
Syaraf fleksus
sub epidermal
|
0
|
0
|
0
|
1
|
|
Gigi
|
0
|
0
|
0
|
1
|
|
Lambung
pliorik
|
0
|
0
|
1
|
1
|
|
Anus
|
1
|
1
|
1
|
1
|
|
Madreporit
|
0
|
1
|
1
|
1
|
|
Saluran batu
|
1
|
1
|
1
|
1
|
|
Saluran gelang
|
1
|
1
|
1
|
1
|
|
Badan
Tiedemann
|
1
|
1
|
1
|
1
|
|
4 buah
gelembung poli
|
1
|
1
|
1
|
1
|
|
Saluran radial
|
1
|
1
|
1
|
1
|
|
Saluran transversal
|
1
|
1
|
1
|
1
|
|
Kaki tabung
|
1
|
1
|
1
|
1
|
|
Mulut
|
1
|
1
|
1
|
1
|
|
Esophagus
|
1
|
1
|
1
|
1
|
|
Sel kelamin
terpisah
|
1
|
1
|
1
|
1
|
|
Regenerasi
|
1
|
1
|
1
|
1
|
|
Respirasi
(kaki tabung )
|
1
|
1
|
1
|
1
|
Tabel Kladogram Lilia Laut, Landak
Laut, Bintang Laut, Tripang
4.4.2
Filum Arthropoda
Karakteristik Kepiting
Mempunyai
lima pasang kaki; sepasang kaki yang pertama dimodifikasi menjadi sepasang
capit dan tidak digunakan untuk bergerak. Di hampir semua jenis kepiting,
kecuali beberapa saja (misalnya, Raninoida), perutnya terlipat di bawah
cephalothorax. Bagian mulut kepiting ditutupi oleh maxilliped yang rata, dan
bagian depan dari carapace tidak membentuk sebuah rostrum yang panjang . Insang
kepiting terbentuk dari pelat-pelat yang pipih ("phyllobranchiate"),
mirip dengan insang udang, namun dengan struktur yang berbeda.
4.4.3
Filum
Mollusca
Karakteristik Kerang
Semua kerang - kerangan memiliki sepasang cangkang ( disebut
juga cangkok atau katup ) yang biasanya simetri cermin yang terhubung dengan suatu
ligamen (jaringan ikat). Pada kebanyakan kerang terdapat dua otot adduktor yang
mengatur buka-tutupnya cangkang.
Kerang
tidak memiliki kepala (juga otak) dan hanya simping yang memiliki mata. Organ
yang dimiliki adalah ginjal, jantung, mulut, dan anus. Kerang dapat bergerak
dengan "kaki" berupa semacam organ pipih yang dikeluarkan dari
cangkang sewaktu-waktu atau dengan membuka-tutup cangkang secara mengejut.
Sistem
sirkulasinya terbuka, berarti tidak memiliki pembuluh darah. Pasokan oksigen
berasal dari darah yang sangat cair yang kaya nutrisi dan oksigen yang
menyelubungi organ-organnya.
Makanan
kerang adalah plankton, dengan cara menyaring. Kerang sendiri merupakan mangsa
bagi cumi-cumi dan hiu.
Semua
kerang adalah jantan ketika muda. Beberapa akan menjadi betina seiring dengan
kedewasaan.
Kerang
memiliki gonad, kelenjar genital yang memproduksi sperma atau sel telur
tergantung pada jenis kelamin kerang. Fertilisasi
telur terjadi secara eksternal di mana sperma dan sel telur akan bertemu di
dalam air. Telur yang terbuahi berkembang menjadi larva yang disebut
trochophore, yang nantinya akan berenang mengikuti arus dan menempel di suatu
tempat sebelum mulai membentuk cangkang.
4.4.4
Filum Porifera
Karakteristik Sycon, Clathrina, Euspongia, Spongia
|
Karakteristik
|
Sycon
|
Clathrina
|
Euspongia
|
Spongia
|
|
Penyusun Kerangka Tubuh
|
Spikula seperti duri-duri kecil dari Kalsium Karbonat.
|
Spikula yang mengandung
silikat atau kersik (SiO2). Ujung spikula
berjumlah 6.
|
kerangka yang sangat elastis dan seluruh
homogeny.
|
Serabut spongin atau
campuran spongin dan zat kersik.
|
|
Ukuran tubuh
|
Tinggi 7.5 cm
|
Tinggi
kurang dari 10 cm
|
Tinggi
10-30 cm
|
Tinggi
dan diameter lebih dari 1 meter
|
|
Warna
|
Putih
|
Kuning
|
Pucat
|
Cerah, mengandung pigmen pada amoebosit yang berfungsi untuk melindungi
tubuh dari sinar matahari.
|
|
Bentuk tubuh
|
Tabung
|
Bantal
|
Mangkuk
|
Tidak
beraturan dan bercabang
|
|
Type saluran air
|
Askon
|
Askon
|
Tipe
sikonoid
|
Tipe
Leukonoid
|
|
Habitat
|
Laut dangkal
|
Laut
dangkal
|
Kedalaman
100-1000 m
|
Laut
dalam maupun dangkal meskipun ada yang di air tawar
|
Tabel Kladogram Sycon, Clathrina, Euspongia,
Spongia
TABEL KLADOGRAM ANTAR
FILUM
Tabel
Kladogram Filum Echinodermata, Mollusca, Artrophoda, Porifera
4.5 Cara
Pengawetan
Sebelum mengoleksi
hewan Invertebrata, terlebih dahulu anda harus mengetahui bermacam-macam cairan
pengawet, teknik pembuatan, serta kegunaannya. Awetan yang sering digunakan
dalam mengawetkan hasil koleksi terdiri atas awetan basah dan awetan kering.
Untuk lebih jelasnya perhatikan peenjelasan berikut.
1.
Awetan Basah
Hewan disimpan di dalam cairan
pengawet . jenis cairan pengawet :
a.
Formalin 4 %
Cara membuat formalin 4 % dari
fomalin 40 % adalah dengan gelas pengukur 100ml, tuangkan formalin sebanyak 4
ml dan tambahkan air sehingga volumenya menjadi 100 ml. Untuk hewan laut, air
yang digunakan adalah air laut, agar tekanan osmosisnya kurang lebih sama
dengan lingkungan hewan tersebut sewaktu masih hidup.
b.
Alkohol 70 %
Alkohol yang sering dipakai
adalah etanol, yang serring diperjual beikan adalah etanol 95 %. Cara membuat
laruta alkohol 70% dari alkohol 95 % adalah : tambahkan air ( aquades ) 25 ml
ke dalam alkohol 95% sebanyak 70 ml.
c.
A.G.A Solution
Formula :
1)
Alkohol 95% ......................... 8 bagian
2)
Aquades ................................. 5 bagian
3)
Glyserin .................................. 1 bagian
4)
Glacial Acetic Acid ................ 1 bagian
Fungsi : Untuk mengawetkan insecta.
Catatan : jangan dibiarkan spesimen direndam dalam
larutan ini lebih dari 6 bulan. Untuk jangka lama gunakan alkohol 70%.
d.
Relaxing Solution
Formula :
1)
Alkohol 95% ......................... 280 CC
2)
Aquades ................................. 230 CC
3)
Glyserin .................................. 35 CC
4)
Glacial Acetic Acid ................
95 CC
Fungsi : untuk mengawetkan tempayak/ larva yang bertubuh
besar dan lemah.
Teknik :
1)
Matikan larva dengan menggunakan air mendidih
2)
Masukan ke dalam Relaxing solution selama 12-24 jam, untuk larva yang
berukuran besar tusuk dengan jarum di 2-3 tempat.
3)
Pindahkan ke dalam alkohol 70%.
e.
K.A.A.D Solution
Formula :
1)
Kerosene ........................ 1 bagian
2)
Alkohol 95% .................. 1 bagian
3)
Glacial Acetic Acid ........ 1 bagian
4)
Dioxane .......................... 1 bagian
Fungsi : untuk mengawetkan
larva bertubuh lemah dan kepompong.
Teknik :
1)
Larva yang bertubuh kecil, simpan dalam K.A.A.D Solutin selama 3 jam, dan
yang bertubuh besar selama 1 jam ;
2)
Pindahkan dan simpan dalam alkohol 70%.
2.
Awetan Kering
a.
Cangkang kerang dan karang
Teknik : untuk cangkang kerang
dan karang hanya perlu dibersihkan dan dikeringkan, serta dalam penyimpanan
harus dijaga jangan sampai kotor.
b.
Serangga
Teknik : hewan yang telah mati,
tusuk dengan jarum serangga, kemudian tancapkan pada papan yang lembut, atu
sayap dan kakinya, kemudian keringkan dengan cara diangin-anginkan (jangan
dijemur dengan mengguakan sinar matahari langsung) setelah kering betul beri
Paradihlorbenzena atau Naphtalena (agar tidak dimakan serangga lain), lalu
simpan di dalam kotak yang rapat.
c.
Kupu-kupu
Teknik : hewan tersebut bunuh
di dalam botol pembunuh (killing jar) yang berisi KCN, Chloroform,
Carbontetraclorida, kemudian tusuk dengan menggunakan jarum serangga pada
bagian thorak, atur sayap dan simpan dalam papan pengering, lalu angin-anginkan
sampai kering. Simpan pada kotak kaca yang tertutup.
d.
Preparat permanen pada gelas objek
Fungsi : untuk mengawetkan
hewan-hewan kecil, sseperti Protozoa, hewan-hewan parasit atau artrophoda
kecil. Beberapa zat yang dipakai dalam mounting medium adalah :
a.
Balsam kanada ( menjadi keras kalau kering )
b.
Folyvinyl lactophenol
c.
Glycerol ( tetap cair )
Teknik : pembuatan preparat
permanen memerlukan proses yang agak lama dan akan dipelajari dalam teknik
mikroskopi.
BAB V
SIMPULAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan ada tidaknya tulang belakang dikelompokkan
menjadi hewan bertulang belakang (vertebrata) dan hewan tak bertulang belakang
(Avertebrata). Kelompok hewan avertebrata mempunyai ciri-ciri tidak bertulang
belakang, susunan syaraf terletak di bagian ventral (perut) di bawah saluran
pencernaan, umumnya memiliki rangka luar (eksoskeleton) dan otak tidak
dilindungi oleh tengkorak.
Hewan atau spesimen yang ditemukan di Pantai Karapyak dari Berbagai macam Filum. Hewan dari antar Filum tersebut
adalah : Teripang, Landak laut, Lilia laut, Bintang laut ( Filum Echinodermata
), kepiting ( Filum Artrophoda ), kerang ( Filum Mollusca ), Karang/ Spongs (
Filum Porifera ).
Dalam pengklasifikasian terlihat dari beberapa specimen,
memiliki keluarga yang sama sehingga memungkinkan memiliki sifat yang sama,
ciri yang sama dan habitat yang sama. Tabel Kladistik dan Klaogram
merupakan penentu tingkatan kemajuan organ dari antar filum, kelas, dan family
antar spesimen yang ditemukan.
Sebelum mengoleksi hewan Invertebrata, terlebih dahulu
anda harus mengetahui bermacam-macam cairan pengawet, teknik pembuatan, serta
kegunaannya. Awetan yang sering digunakan dalam mengawetkan hasil koleksi
terdiri atas awetan basah dan awetan kering.
Rusyana Adun ( 2011 ).Zoology Invetebrata.Bandung: C.V. Alfabeta.
Anonim ( 2013 ).Pengertian dan pemahaman tentang Filum Echinodermata (Online).Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Echinodermata.(27 Januari 2013).
Anonim ( 2013 ).Pengertian dan pemahaman tentang
Filum Porifera (Online).Tersedia: http://iwak-pithik.blogspot.com/2012/05/filum-porifera-hewan-berpori-pori.html.(27
Januari 2013).
Anonim ( 2013
).Pengertian dan pemahaman tentang Filum Arthropoda (Online).Tersedia: http://dhewhy.wordpress.com/2009/07/24/filum-arthropoda/.(27
Januari 2013).
|
KULIAH KERJA LAPANGAN
(KKL)
PANTAI KARAPYAK DESA BAGOLO KECAMATAN KALIPUCANG CIAMIS
Diajukan untuk
Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Zoologi Invetebrata

Oleh:
1.
Asih Eriswanti
2.
Dania Yogati
3.
Feri Bakhtiar Rinaldi
4.
Juju Julaeha
5.
Pipit Pancawati
6.
Rinda Sri Haryati
7.
Septian Christy
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS GALUH 2012
|
Ucapan Bismillahirohmaanirrohiim selayaknya penulis
sampaikan, Puji serta syukur sepatutnya dialamatkan kehadirat Allah SWT yang
telah mencurahkan rahmat dan karunia-Nya Sehingga laporan Kuliah Lapangan ini
dapat diselesaikan.
Laporan kuliah lapangan ini menggambarkan potensi alam
yang terdapat di pantai Karapyak Desa Bagolo Kecamatan Kalipucang Kabupaten
Pangandaran yang belum dieksplorasi sehingga keadaan alam dan lingkungannya
kurang memiliki prospek yang bernilai ekonomi karena tidak memiliki daya tarik
dan kalah bersaing dari daerah objek wisata lain seperti Pangandaran, Batu
Karas, Batu Hiu dan lain sebagainya. Perlu pemikiran jeli dan analisis yang
lebih dalam untuk mampu mengekplorasi potensi alam di pantai karapyak sehingga
mampu bersaing dengan objek wisata lain dalam menarik minat pengunjung.
Penulis menyadari bahwa karya tulis ini baik secara fisikal maupun struktural
masih jauh dari kata sempurna, Langkah real
penyempurnaan karya tulis ini adalah masukan dari pembaca baik berupa kritik
maupun saran sebagai titik muhasabah bagi penulis. Namun ketidaksempurnaan
karya tulis ini tidak lantas membuat penulis diam tanpa harapan dan angan,
karya tulis diharapkan mampu memberi manfaat dan sumbangsih bagi perkembangan
dunia pendidikan Nasional Indonesia,
khususnya perkembangan Pendidikan di Universitas Galuh tercinta.
Ciamis , Pebruari
2013
|
|
|
KATA
PENGANTAR............................................................................ i
DAFTAR
ISI.......................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang ....................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................... 2
1.3 Tujuan KKL............................................................................ 2
1.4 Manfaat KKL......................................................................... 3
1.5 Metodologi Penelitian ............................................................ 4
1.6 Tempat dan Jadwal Pelaksanaan............................................ 4
BAB
II TINJAUAN
UMUM
2.1 Paparan singkat tentang Pantai Karapyak.............................. 5
2.2 Obyek Wisata......................................................................... 7
2.3 Profil Desa Wisata ................................................................. 7
|
3.1 Turun Kelaut........................................................................... 10
3.2 Penyisiran Trumbu Karang..................................................... 10
3.3 Pengambian Hewan................................................................ 10
3.4 Pengelompokan Hewan.......................................................... 11
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN MASALAH
4.1 Hewan yang Avetebrata.......................................................... 12
4.2 Hewan yang
ditemukan.......................................................... 19
4.3 Klasifikasi............................................................................... 26
4.4 Tabel
Karakteristik, Kladistik dan Kladogram....................... 29
4.5 Cara Pengawetan.................................................................... 36
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan................................................................................. 39
|
LAMPIRAN – LAMPIRAN
|
ii
|
Foto
Spesimen

Komentar
Posting Komentar