LAPORAN KKL ZOO INVETEBRATA



                                                                 
BAB I
                                                      PENDAHULUAN                                    



1.1    Latar Belakang
       Perkembangan zaman sekarang ini sangat drastis, banyak terjadi perubahan di berbagai aspek kehidupan baik ekonomi, sosial, budaya dan teknologi. Untuk mendukung usaha tersebut maka kita harus memiliki pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan dan keterampilan didapat dari studi yang dilakukan, riset - riset yang diteliti dan pengalaman yang didapat sehari-hari. Mahasiswa sebagai insan akademis selama ini hanya terpaku pada proses pembelajaran secara teoritis. Oleh sebab itulah, banyak mahasiswa yang pada saat memasuki dunia kerja diragukan kemampuannya oleh instansi yang dimasukinya. Agar mahasiswa tidak terpaku hanya pada proses pembelajaran secara teoritis, maka diperlukan suatu metode yang diharapkan mampu untuk memberi suatu perubahan yang bernilai positif. Sebagai salah satunya adalah program Kuliah Kerja Lapangan ( KKL ). Praktek Kerja ini mengajarkan pada mahasiswa untuk terjun ke dalam suatu instansi baik instansi yang bersifat bisnis, pemerintahan bahkan lembaga kesosialan yang ada pada masyarakat.
       Saat ini banyak orang yang tidak tahu akan pentingnya kehidupan di lingkungan, mereka lebih mementingkan urusan mereka di bandingkan hal yang akan terjadi setelah apa yang dilakukan, seperti contoh penangkapan ikan dengan alat peledak, ini sangat berbahaya bagi ekosistem lautan, terutama ekosistem hewan di terumbu karang. dengan ini penyusun meneliti Pantai Karapyak yang berada di Desa Bagolo, Kec. Kalipucang, Kab. Ciamis yang tepatnya sekitar 20 km dari Pantai Pangandaran atau 78 km dari Alun-alun Kota Ciamis sebagai bahan penelitian KKL.

1.2 Rumusan Masalah
        Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertuju pada produk yang di jadikan sebagai bahan penelitian yaitu hewan yang hidup di pantai karang, penulis mengidentifikasikan masalahnya sebagai berikut:
1.      Apakah yang dimaksud dengan Hewan Tak Bertulang belakang        (Avetebrata) dan spesimen apa saja yang termasuk pada Avetebrata?
2.      Apa saja hewan/ spesimen yang ditemukan di sekitar terumbu karang Pantai Karapyak dan bagaimana pengklasifikasian dari hewan yang ada ?
3.      Bagaimanakah karakteristik serta Tabel Kladogram dan Tabel Kladistik dari jenis-jenis Spesimen tersebut ?
4.      Bagaimanakah cara membunuh dan mengawetkan hewan tersebut ?

1.3  Tujuan KKL
        Tujuan yang ingin dicapai penyusun dalam Kuliah Kerja Lapangan ( KKL ) ini adalah:
1)      Mengetahui apa itu hewan yang Avetebrata dan jenis spesimennya.
2)      Mengetahui hewan apa saja yang hidup di perairan pantai sekitar karang dan mengetahui lebih jelas kelompok hewan dengan pengklasifikasian.
3)      Mengetahui karakteristik dari jenis-jenis hewan tersebut serta mengetahui tingkatan hewan melalui Tabel Kladistik dan Tabel Kladogram.
4)      Mengetahui cara pengawetan hewan dan sebagai contoh kepada peserta didik lanjutan untuk mengetahui hewan dengan tidak harus mengambil terus dari pantai.





1.4  Manfaat KKL
 Manfaat KKL adalah sebagai berikut:
1)      Bagi Mahasiswa
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan di dunia ekosistem terumbu karang sebagai bekal agar dapat menerapkan antara teori yang diterima di bangku kuliah. serta menambah pengetahuan, pengalaman dan wawasan mengenai ekosistem, karakteristik, dan tingkatan hewan yang hidup di sekitar perairan terumbu karang yang berada di Pantai Karapyak, Desa Bagolo, Kec. Kalipucang, Kab. Ciamis.
2)      Bagi Warga Lingkungan Pantai Karapyak.
Dapat meninjau kualitas pendidikan di Universitas Galuh Ciamis, memberi masukan dan informasi yang sesuai, sehingga membantu meningkatkan kemampuan lulusan yang dibutuhkan untuk meningkatkan peran terhadap dunia pendidikan.
3)      Bagi Universitas Galuh Ciamis.
Memperoleh informasi tentang hewan yang hidup di daerah peraian terumbu karang dan informasi tentang yang harus dilakukan dengan adanya ekosistem yang masih original dan patut untuk dipertahankan serta mengembangkan ilmu pendidikan dengan kenyataan yang ada khususnya pada pendidikan pengembangan Ilmu Biologi serta dapat memperbaiki kurikulum dan silabus agar dapat menghasilkan lulusan profesional yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan pendidikan.
4)      Bagi Masyarakat 
Dapat Memahami sebenarnya tentang pentingnya Ekosistem Perairan terumbu karang. Dan juga memahami dampak yang akan terjadi apabila Ekosistem terumbu karang rusak. Memahai dasar – dasar  alam dari mulai langkah – langkahnya sampai syarat – syarat dari pelestarian Ekosistem terumbu karang.
1.5  Metodologi Penelitian
           Metodologi yang digunakan pada Praktek Kerja Lapangan adalah “field research” yaitu penelitian yang dilakukan dengan meninjau dan mengamati secara langsung pada tempat penelitian untuk mendapatkan data-data yang akurat. Beberapa teknik yang digunakan adalah seperti berikut:
1.      Observasi yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara megadakan pengamatan secara langsung pada obyek penelitian yang merupakan sumber data.
2.      Interview, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan melalui proses Tanya jawab (wawancara) dengan pihak-pihak yang terkait langsung dengan obyek penelitian.

1.6  Tempat dan Jadwal Pelaksanaan
a.              Tempat Pelaksanaan
            Nama Pantai                : Pantai Karapyak
            Alamat                                    : Desa Bagolo, Kecamatan Kalipucang
Koordinat
                   : 7 41' 27" S, 108 45' 6" E
Arah
                            : 87 km dari Kota Ciamis ke arah selatan
Informasi Lebih Lanjut: Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata
 
                                                   Kabupaten Ciamis Jl. Mr. Iwa
                                                   Kusumasumantri no. 14 Ciamis 46213
b.              Jadwal Pelaksanaan
            Pelaksanan Kuliah Kerja Lapangan dilaksanakan mulai tanggal 23   Januari sampai dengan 24 Januari 2013.





BAB II
TINJAUAN UMUM

2.1Pantai Karapyak
Pantai Karapyak merupakan bagian dari pantai Laut Selatan Jawa yang menawarkan panorama alam yang indah dan sangat menarik. Dengan pantai yang masih perawan, Anda dapat bersantai sambil melakukan kegiatan rekreasi seperti memancing, berkemah dan menikmati keindahan alam sambil berburu ikan kecil dan keong laut yang dapat ditemukan di sekitar batu karang dengan suasana privasi yang tinggi.
Pantai Karang Nini merupakan obyek wisata yang menawarkan suasana yang sangat nyaman, dengan suasana yang tenang dan damai disertai deburan ombak yang akan selalu menemani Anda selama berada di kawasan objek wisata ini.

Ada sejumlah objek wisata pantai di Kabupaten Ciamis selain Pantai Pangandaran dan Pantai Batu Hiu. Keindahan alam dan pantai yang satu ini melebihi keindahan pantai di Pangandaran maupun Batu Hiu. Pantai yang dimaksud adalah Pantai Karapyak, terletak di Desa Bagolo, Kec. Kalipucang, Kab. Ciamis. Sekitar 20 km dari Pantai Pangandaran atau 78 km dari Alun-alun Kota Ciamis.

Untuk menuju lokasi ini tidak begitu sulit, karena akses masuk ke sana sudah bagus, bahkan ada penunjuk jalan yang bisa mengarahkan wisatawan ke Pantai Karapyak. Yang patut disayangkan, belum adanya angkutan umum yang bisa membawa pengunjung ke Pantai Karapyak, sekalipun ojek. Hanya pengunjung yang mempunyai kendaraan pribadi atau kendaraan sewaan yang bisa mencapai Pantai Karapyak.

Keindahan Pantai Karapyak memang belum bisa mengalahkan Pantai Pangandaran. Namun bukan berarti tidak layak dikunjungi dan dijadikan objek wisata. Pantai ini mempunyai kelebihan hamparan pasir putih yang memanjang sepanjang kurang lebih 5 km dipadu dengan tonjolan batu karang. Keindahan semakin kentara, ketika ombak laut mulai surut, ikan hias berenang ke sana kemari di sela-sela batu karang. Kepiting kecil dan kumang (kepiting berumah) keluar masuk lubang pasir sambil membawa makanan. Tak hanya itu, cangkang kerang dan hewan moluska lainnya serta karang putih berserakan di sepanjang pantai, menggoda kita untuk mengambil dan mengumpulkannya untuk dijadikan suvenir laut.


Batu karang yang menghampar dan menjorok hampir ke tengah lautan, memang menjadi surga bagi ikan laut. Ada puluhan ribu bahkan puluhan juta ikan hias yang hidup di sana, jelas membuat Pantai Karapyak lebih hidup dan menantang. Selain hamparan pasir putih dan batu karang, pantai ini pun mempunyai tebing-tebing curam nan indah, yang siap mengundang para petualang untuk menjelajahi tiap jengkal tebing karangnya. Di bawah tebing curam, deburan ombak siap mengolah adrenalin hingga ubun-ubun. Buih-buih ombak di bawah tebing curam seolah menanti cucuran keringat petualangan Anda.
Selain menawarkan sejuta keindahan dan petualangan, Pantai Karapyak terbilang masih alami dan perawan. Ini ditandai masih bersihnya pantai dari serbuan sampah plastik maupun sejenisnya. Kondisi alamnya pun masih alami dan terawat. Hanya sayang, pantai ini kurang diminati wisatawan domestik maupun mancanegara. Ini terlihat dari masih jarangnya warung-warung maupun penginapan yang dikembangkan warga setempat.
Hal ini lebih diakibatkan gelombang ombaknya yang tinggi dan menyeramkan, juga pantainya yang curam karena terhubung langsung dengan batu-batu karang. Juga kurangnya akses masuk ke lokasi tersebut. Padahal di Karapyak sudah didirikan menara pengawas pantai serta sarana lainnya yang siap memanjakan para wisatawan. Terlebih pantai ini lokasinya sangat dekat Pulau Nusakambangan. Cukup dengan menyewa perahu, Anda bisa menginjakkan kaki di pulau yang mengundang sejuta misteri ini. Tak hanya itu, Anda pun bisa berjalan-jalan menyusuri muara Sungai Citanduy atau lebih dikenal dengan sebutan Sagara Anakan. Jauh di tengah laut, berdiri tegak dua batu karang yang membentuk pintu masuk ke Sagara Anakan. Menurut nelayan setempat, Maryono, batu karang tersebut dijadikan benteng pertahanan Dermaga Sagara Anakan dari serbuan ombak yang ganas.
2.2   Obyek wisata.
Obyek wisata pantai ini merupakan obyek wisata yang mempunyai suasana yang sangat nyaman, dimana suasana yang tenang dan damai di sertai deburan ombak akan selalu menemani para pengunjung selama berada di kawasan obyek wisata ini.
Rutinitas serta aktivitas keseharian yang sangat padat yang dijalani para pengunjung, akan hilang seketika ketika berkunjung ke daerah pantai ini. Suasana yang damai, suara ombak yang menderu-deru serta kicauan burung yang banyak berterbangan semakin menambah kekhusuan kita dalam pentafakuran dan pengenalan diri kita yang sebenarnya.

2.3   Profil Desa Wisata


Desa/Kelurahan                            : Bagolo
Kecamatan/Distrik
                      : Kalipucang
Kabupaten
                                   : Ciamis
Contact Person & HP
                 : -

1. Demografi dan Jumlah Penduduk miskin :
a. Jumlah Penduduk
                    : 3.112 Orang
b. Jumlah Kepala Keluarga
         : 975 Orang
c. Jumlah Warga Pakir miskin
     : 433 Orang
d. Mata Pencaharian masyarakat
. Petani/buruh tani
                       : 2.178 Orang
. Wiraswasta
                                : 818 Orang
. Nelayan
                                     : 116 Orang
2. Potensi pariwisata
a. Daya Tarik Wisata
                   : Hamparan karang dan terumbu karang
                                                  sepanjang 1.200 m
b. Seni Budaya
                            : Pencak Silat
c. Jumlah Kunjungan Pertahun ;
. Wisata Nusantara
                      : 12.250 Orang
. Wisata Mancanegara
                 : 275 Orang
3. Jumlah Usaha terkait dengan Pariwisata yang di kembangkan masyarakat
a. Hotel/Penginapan/Homestay
   : 8 Unit
b. Transportasi/ Angkutan
           : 2 Unit
c. Rumah Makan/ Warung Makan: 3 Unit
d. Kios Cindramata
                     : -
e. Industri Kerajinan Kecil
          :-
( Kulit/Kayu/anyaman/Gerabahan/Keramik/Kain/Tenun/Makanan/Souvenir)
f. Lainnya
                                    : -
4.
 Sarana dan Prasarana Pendukung Kepariwisataan di
Desa/Kelurahan/Kampung :
a. MCK
b. Mushola
5. Program apa saja yang telah dilaksanakan dalam rangka pemangunan pariwisata di desa wisata olah pemerintah, pihak swasta maupun swadaya masyarakat
a. Pembangun abrasi pantai: Belum semua di bangun
b. Taman Pantai
              : Belum dibangun
c. Gaseg
                          : Belum dibangun
d
. Papan Informasi           : Belum maksimal
6. Kendala dan permasalahan dalam pengembangan wisata
a. Tidak ada bantuan dari pemerintah maupun pehak ke tiga




















BAB III
URAIAN KEGIATAN

3.1  Turun Kelaut
            Untuk mengetahui apa saja yang hidup dilaut kita harus terjun langsung kelaut, khususnya dalam mata kuliah ini yaitu Zoology Invetebrata kita harus mengambil dan menemukan hewan yang tak bertulang belakang seperti hewan  yang berfilum Molusca, Artrophoda, Porifera, Coelenterata, Platyhelminthes, Nemathelminthes, Annelida dan Echinodermata. Selain itu kita juga harus menentukan dan melihat jenis- jenis karang tersebut.
3.2  Penyisiran Terumbu Karang
Pada bagian ini kita mulai mencari hewan- hewan yang hidup disekitar terumbu karang saat air laut surut, dan di bagian ini kita melihat banyak jenis karang dan banyak hewan yang bersarang di dalamnya seperti Kepiting laut ( Crustaceae ).
3.3  Pengambilan hewan
     Cara pengambilan hewan harus dengan hati-hati karena banyak hewan seperti Asterias forbesi dan Holothuria atra serta hewan yang berfilum Echinodermata lainnya bertubuh lunak, kalau saja tidak hati-hati maka hewan tersebut akan robek dan mengeluarkan isi tubuh atau organ dalamnya, pengambilan hewan juga sangat tidak di sarankan untuk berlebihan, artinya kita harus membawa 1 saja untuk setiap spesimen, walaupun dibilang lokasi pantai Karrapyak merupakan Pantai dengan Terumbu karang yang masih perawan atau Original, namun untuk pencarian spesimen sedikit sulit, entah itu pengaruh dari pasang surut air laut atau sudah mulai langkanya hewan-hewan tersebut.


3.4  Pengelompokan hewan
Ini adalah proses ahir dari penelitian, Setelah mencari spesimen, kita mengelompokan hewan tersebut dan memberi karakteristik, menklasifikasi dan memberi tingkatan kemajuan pada organ dengan membuat tabel Kladistik dan Kladogram dari  hasil perbedaan karakteristik hewan-hewan tersebut.



















 
BAB IV
PEMBAHASAN


4.1  Hewan Tak Bertulang Belakang ( Avetebrata )
Dunia hewan, berdasarkan ada tidaknya tulang belakang dikelompokkan menjadi hewan bertulang belakang (vertebrata) dan hewan tak bertulang belakang (Avertebrata). Kelompok hewan avertebrata mempunyai ciri-ciri tidak bertulang belakang, susunan syaraf terletak di bagian ventral (perut) di bawah saluran pencernaan, umumnya memiliki rangka luar (eksoskeleton) dan otak tidak dilindungi oleh tengkorak.
Berikut adalah kelompok hewan yang termasuk  avertebrata :
4.1.1        Porifera
(Latin: porus = pori,fer = membawa) atau spons atau hewan berpori adalah sebuah filum untuk hewan multiseluler yang paling sederhana. Porifera hidup secara heterotrof. Makanannya adalah bakteri dan plankton. Makanan yang masuk ke tubuhnya dalam bentuk cairan sehingga porifera disebut juga sebagai pemakan cairan. Habitat porifera umumnya di laut.
Contoh : Sycon, Clathrina, Euspongia, Spongia
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaHh0X8QCE2HjO4qSXv1evRVcOnjgbH3UOQPd2tuu6FnfcWnjAPaySECBsTmSVRhac5plxtAKIXeLhL4O93RCpUkc4Xq_Q0MIrujfO0GJWu6cREqybYxtShlM3jXQPwVTvv6gZT159Dvs/s320/Slide1.JPG


4.1.2        Coelenterata (Hewan Berongga)
Coelenterata (dalam bahasa yunani, coelenteron = rongga) adalah invertebrata yang memiliki rongga tubuh.Rongga tubuh tersebut berfungsi sebagai alat pencernaan (gastrovaskuler).Coeleanterata disebut juga Cnidaria (dalam bahasa yunani, cnido = penyengat) karena sesuai dengan cirinya yang memiliki sel penyengat.Sel penyengat terletak pada tentakel yang terdapat disekitar mulutnya.
Coelenterata memiliki struktur tubuh yang lebih kompleks.Sel-sel Coelenterata sudah terorganisasi membentuk jaringan dan fungsi dikoordinasi oleh saraf sederhana.
Contoh:  hydra, koral, polip dan jellyfish atau ubur-ubur.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJJddZiG7BLMabSWzKYkcc-zIAbCd8_orYGmcyFLyPIOoJH7gr2DOEX7HB_j1cjwXUWybEecVXetF5nODQXZLllG5QYnS1o0HnDGOKbTvxpfrX33LR70o0OqKDQTit6o6aAXtVfN4zCGI/s320/Slide2.JPG

4.1.3        Platyhelminthes (cacing pipih)
Platyhelminthes adalah binatang sejenis cacing pipih dengan simetri tubuh simetris bilateral tanpa peredaran darah dengan pusat syarah yang berpasangan. Cacing pipih kebanyakan sebagai biang timbulnya penyakit karena hidup sebagai parasit pada binatang / hewan atau manusia.
Contoh dari cacing pipih  antara lain :
·         cacing getar : planaria
·         cacing pita : Taenia saginata (cacing pita sapi), Taenia solium (cacing pita babi), Echinococcus granulosum (cacing pita anjing)
·         cacing isap : cacing hati (Fasciola hepatica)
            https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnYPPXw4XxsN28gJSDyX8CAzw_VG6YuV2bQwYUZ61oLwVxImY2yBc3mMqfsW-PfsVP4B6CKLNHhpZUBm7GfA8w4y44LAdHdG8zfGtd4c6P-MTb7FVQhzQiedVUcrRW7uUzotJgyzVtxqE/s320/Slide3.JPG
4.1.4        Nemathelminthes (Cacing gilig)
Nemathelminthes atau cacing gilik / gilig adalah hewan yang memiliki tubuh simetris bilateral dengan saluran pencernaan yang baik namun tiak ada sistem peredaran darah.
Contoh : cacing perut (Ascaris lumbricoides), cacing kremi (Oxyuris vermicularis), cacing tambang (Ancylostoma duodenale) , cacing filaria (Wuchereria bancrofti).
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiY5va7D83tQZSTmeTvXgrzPmtJjQTYHNVzQIVkOm-aGjE40zFynVIZbfDDkDtKuqeLhX_x60AG4JxFQBiEB-6fOWvq5HLlMvJrkk8PtN17f_jJkl1d8NtXA3CBgCaeZuuUIVho29eKkF8/s320/Slide4.JPG

4.1.5        Annelida (Cacing Gelang)
Annelida adalah cacing gelang dengan tubuh yang terdiri atas segmen-segmen dengan berbagai sistem organ tubuh yang baik dengan sistem peredaran darah tertutup. Annelida sebagian besar memiliki dua kelamin sekaligus dalam satu tubuh atau hermafrodit.
Contoh :  cacing tanah (Lumbricus terrestris), cacing wawo, cacing palolo, lintah (Hirudo medicinalis) dan pacet (Haemodipsa)
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1PBYgFKKh7R-NbYupMb40nBx-Ab9tLG_BJsV6jRwiLsd6nFNLkOM3xpxfGUd2F6LeWy4Z_p0Pk5qNrcuJghY0sBprMXPZIN3er1kaycXuH57QJTKP_KohPpXqowDXWb3h_zAhetnRDew/s320/Slide5.JPG


4.1.6        Mollusca (Hewan bertubuh lunak)
Mollusca adalah hewan bertubuh lunak tanpa segmen dengan tubuh yang lunak dan biasanya memiliki pelindung tubuh yang berbentuk cangkang atau cangkok yang terbuat dari zat kapur untuk perlindungan diri dari serangan predator dan gangguan lainnya. Hidup di air laut, air tawar dan di darat.
Contoh : kerang, , gurita, cumi-cumi, sotong, siput darat, siput laut, chiton.
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEisF55tuyYhhhG6Czis1iNDc1nfq7rxIvzxmg8nTSR4T7tCJYbgSFlMARV7QIUwv1KVhlsIXyaoHCQga9bF4Fq2ggN85fmYwCP1IFspqNXTUlXRucQbc86ZYQs_9r75KZSommTCyPyOWEs/s320/Slide6.JPG
4.1.7        Echinodermata (Hewan berkulit duri)
Echinonermata adalah binatang berkulit duri yang hidup di wilayah laut dengan jumlah lengan lima buah bersimetris tubuh simetris radial. Beberapa organ tubuh echinodermata sudah berkembang dengan baik. Tubuh ditutupi duri yang tersusun atas zat kapur, memiliki daya regenerasi yang tinggi, hidup di laut, berkembang biak secara kawin yang pembuahannya diluar tubuh.
Contoh :s
Bintang laut (Asteroidea), Landak laut (Echinoidea), Bintang ular (Ophiuroidea), lili laut (Crinoidea), teripang (Holothuroidea).
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiROXRUlQA2SGPxGqDY6CQW3iVaoc0iQytF1NWLgkiAzwyYvYtCRN1AozlX6O7uY6uzKPcY_brWXihX72cCqRXVDwuCaAiIyOzyryNjungJr_K_fS7eqFU1cR29O-KIWx3ZWTTngM2OL7E/s320/Slide7.JPG

4.1.8        Arthropoda (Hewan Berbuku-buku)
Arthropoda adalah hewan dengan kaki beruas-ruas dengan sistem saraf tali dan organ tubuh telah berkembang dengan baik. Tubuh artropoda terbagi atas segmen-segmen yang berbeda dengan sistem peredaran darah terbuka.
Arthropoda dibagi menjadi 4 kelas, yaitu :
a. Insecta (Serangga)
Insecta adalah kelompok utama dari hewan beruas (Arthropoda) yang bertungkai enam (tiga pasang); karena itulah mereka disebut pula Hexapoda (dari bahasa Yunani yang berarti “berkaki enam”)
Contoh : kecoa, kupu-kupu, nyamuk, lalat
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjedsMlkK5S4IYEY_QPzPb2_RCIDbRX3eRB6HlIcwpVTdRCFvqnMxhcf3OOWcoPd1n7WUiThM1hlf8HZE6PLMKsqAWxvcD52DY08pEmO5lAs-SkXuO0y-PHw5gjGQxsP1PdPK5tVS9vJbI/s320/Slide8.JPG
b. Crustaceae (Udang-udangan)
Mayoritas merupakan hewan air, baik air tawar maupun laut, walaupun beberapa kelompok telah beradaptasi dengan kehidupan darat, seperti kepiting darat. Kebanyakan anggotanya dapat bebas bergerak, walaupun beberapa takson bersifat parasit dan hidup dengan menumpang pada inangnya.
Tubuh Crustacea terdiri atas dua bagian, yaitu kepala dada yang menyatu (sefalotoraks) dan perut atau badan belakang (abdomen). Bagian sefalotoraks dilindungi oleh kulit keras yang disebut karapas dan 5 pasang kaki yang terdiri dari 1 pasang kaki capit (keliped) dan 4 pasang kaki jalan. Selain itu, di sefalotoraks juga terdapat sepasang antena, rahang atas, dan rahang bawah. Sementara pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang dan di bagian ujungnya terdapat ekor. Pada udang betina, kaki di bagian abdomen juga berfungsi untuk menyimpan telurnya.
Contoh : kepiting, ketam, udang
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjRwU27GLVhHZSWFQyBBjYwIMMMDdvQ4uJeCSwL8bDKK-OQH4fA13d-atxTFKi93jcFMpYBS8oBduDBOPk-UPTUxXATOe63tUlsJX5tENlglN8t7fn9iTVd3-buV7v-B5qW2uLV_xg2JIE/s320/Slide9.JPG
c. Arachnoidea (Laba-laba)
Laba-laba, atau disebut juga labah-labah, adalah sejenis hewan berbuku-buku (arthropoda) dengan dua segmen tubuh,empat pasang kaki, tak bersayap dan tak memiliki mulut pengunyah. Laba-laba merupakan hewan pemangsa (karnivora), bahkan kadang-kadang kanibal. Mangsa utamanya adalah serangga.
Tidak semua laba-laba membuat jaring untuk menangkap mangsa, akan tetapi semuanya mampu menghasilkan benang sutera –yakni helaian serat protein yang tipis namun kuat– dari kelenjar (disebut spinneret) yang terletak di bagian belakang tubuhnya. Serat sutera ini amat berguna untuk membantu pergerakan laba-laba, berayun dari satu tempat ke tempat lain, menjerat mangsa, membuat kantung telur, melindungi lubang sarang, dan lain-lain.
Contoh : kalajengking, laba-laba, kutu buku.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVhN3yNDUgEzOV_g3xRaIzWTDiw17WUsB_lfXA4-BWiKKy5detjY8vEZuRrc7T4Zb3fY9xEc4odbQK2r5EV-7tcrh1A1xEfQsG57w4EWM8gNmlzNa9yEqJg7p-wa2uFRoSMbemNY54cl8/s320/Slide10.JPG
d. Myriapoda (Lipan)
Kelabang adalah hewan yang memiliki sepasang kaki di setiap ruas tubuhnya. Hewan ini termasuk hewan yang berbisa, dan termasuk hewan nokturnal (beraktivitas di malam hari).
Contoh : lipan (kelabang), luwing (kaki seribu)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMV4isTQVQyTGWvvAobDqNqufBbnHinXHkzNLGDza-bJZiZL0RNO8ZJbfqXlJU0l-JujyKeqpaPitM9u29k3TIOO9cJGRwtr4gYQFaY0s2c69Ns-P8bp7vzMpa73tKsmHgTaAtlfEKTQU/s320/Slide11.JPG
4.2  Hewan yang ditemukan
Hewan yang ditemukan dari berbagai macam Filum.
4.2.1        Filum Echinodermata
Echinodermata berasal dari kata echinos yang berarti landak/duri dan derma berarti kulit. Jadi, Echinodermata berarti hewan yang kulitnya berduri. Semua Echinodermata hidup di laut. Ada lebih dari 5.000 spesies dalam filum ini, seperti bintang laut, sea urchin, dan timun laut. Echinodermata sama seperti Mollusca, memiliki coelom dan sistem pencernaannya sudah lengkap. Umumnya Echinodermata memiliki tubuh simetri radial. Selama perkembangannya, Echinodermata melewati tahapan larva bipinnaria. Bipinnaria memiliki bentuk simetri bilateral. Selain bipinnaria, dua ciri unik Echinodermata lainnya adalah sistem kaki tabung dan endoskeletonnya. Kaki tabung (tube feet) digunakan untuk bergerak dan mendapatkan makanan. Kaki tabung ini digerakkan oleh sistem pompa air tabung yang unik. Endoskeleton Echinodermata melindungi dan menyokong jaringan hewan yang lunak. Endoskeleton terbuat dari kalsium yang terbentuk di jaringan sebelum epidermis. Hewan Echinodermata habitatnya di laut, biasanya bersifat sesil atau menetap. Makanannya berupa sisa organisme yang telah mati atau organisme lain yang lebih kecil.
Sebagian besar Echinodermata merupakan hewan yang bergerak lamban dengan simetri tubuh radial. Bagian internal hewan ini menjalar dari pusat menuju lengan-lengan yang berjumlah lima. Kulit tipis menutupi eksoskeleton keras yang terbuat dari zat kapur. Sebagian besar Echinodermata merupakan hewan berbulu kasar karena adanya tonjolan kerangka dari duri yang memiliki berbagai fungsi. Yang khas pada filum ini adalah struktur pembuluh air (water vascular system), yaitu suatu jaringan hidrolik yang bercabang menjadi penjuluran, disebut kaki tabung yang berfungsi untuk lokomosi (pergerakan), makan dan pertukaran gas. Echinodermata adalah hewan triploblastik selomata. Gerakan Echinodermata lambat dan gerakannya menggunakan kaki pembuluh (kaki ambulakral).
Spesimen Echinodermata di Pantai Karapyak :
a.      Teripang
Teripang atau trepang atau timun laut adalah istilah yang diberikan untuk hewan invertebrata Holothuroidea yang dapat dimakan. Ia tersebar luas di lingkungan laut di seluruh dunia, mulai dari zona pasang surut sampai laut dalam terutama di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Barat.
Teripang adalah hewan yang bergerak lambat, hidup pada dasar substrat pasir, lumpur pasiran maupun dalam lingkungan terumbu. Teripang merupakan komponen penting dalam rantai makanan di terumbu karang dan ekosistem asosiasinya pada berbagai tingkat struktur pakan (trophic levels)


b.      Landak laut
Landak laut atau disebut juga bulu babi (Echinoidea) merupakan hewan yang biasanya hidup di 1. daerah pantai 2. atas batu karang 3. dasar laut 4. dalam lumpur 5. sumur-sumuran daerah pantai 6. muara sungai (dengan membenamkan diri di tanah liat atau di bawah karang)
Hewan-hewan yang termasuk kelas ini berbentuk bundar tak berlengan, tetapi memilki duri yang dapat digerakkan.
Bulu babi atau urchin adalah binatang kecil, berbentuk bulat, bertulang belakang, yang merupakan bagian dari kelas Echinoidea. Bulu babi ditemukan seluruh samudra di dunia. Kulit atau "Test", mebentuk putaran dan bertulang belakang, secara khas dari 3 sampai 10 cm berhadapan. Warna umum hitam dan paduan dari hijau olive,, zaitun, coklat, ungu, dan merah. Pergerakkan pelan, Makanan kebanyakan dari ganggang. Berang-Berang Laut, Ikan belut Serigala, dan pemangsa lain merupakan predator bulu babi. Bulu babi juga dipanen oleh manusia dan rusa kecil sebagai makan yang lezat.
c.       Bintang laut
Walaupun dalam bahasa Inggris ia dikenal dengan sebutan starfish, hewan ini sangat jauh hubungannya dengan ikan. Bintang laut merupakan hewan invertebratayang termasuk dalam filum Echinodermata, dan kelas Asteroidea. Bintang laut merupakan hewan simetri radial dan umumnya memiliki lima atau lebih lengan. Bintang laut tidak memiliki rangka yang mampu membantu pergerakan. Rangka mereka berfungsi sebagai perlindungan.
d.      Lilia Laut
Hewan ini mirip tumbuhan, karena bentuknya menyerupai bunga lili. Kulitnya tersusun dari zat kitin. Biasanya melekat pada dasar perairan. Jika lingkungsn tidak memungkinkan, misalnya makanan habis atau keselamatannya terancam, ia akan pindah ke tempat lain yang sesuai dan aman. Kelompok hewan ini juga sering disebut bintang bulu.
Juga dikenal sebagai lili laut atau lilia laut yaitu hewan yang mempunyai lengan bercabang serta anus dan mulut berada di permukaan oral, kaki tabungnya tidak mempunyai saluran penghisap.  dan alur ambulakranya terbuka,tidak memiliki madreporit, duri ataupun pedicillariae

4.2.2        Filum Artrophoda
Arthropoda berasal dari bahasa Yunani, arthos yang artinya segmen/ruas dan poda yang artinya kaki. Jadi, Arthropoda adalah hewan berkaki ruas. Semua jenis hewan yang termasuk filum arthropoda memiliki tubuh dan kaki yang berruas-ruas. Tubuhnya tertutup dengan kitin sebagai rangka luarnya.
Filum Arthropoda adalah filum yang paling besar dalam dunia hewan dan mencakup serangga, laba-laba, udang, lipan dan hewan mirip lainnya. Arthropoda adalah nama lain hewan berbuku-buku.
Empat dari lima bagian dari spesies hewan adalah Arthropoda, dengan jumlah di atas satu juta spesies modern yang ditemukan dan rekor fosil yang mencapai awal Cambrian. Arthropoda biasa ditemukan di laut, air tawar, darat, dan lingkungan udara, serta termasuk berbagai bentuk simbiotis dan parasit. Hamper 90% dari seluruh jenis hewan yang diketahui orang adalahArthropoda. Arthropoda dianggap berkerabat dekat dengan Annelida, contohnya adalahPeripetus di Afrika Selatan.
Spesimen Filum Antrophoda di Pantai Karapyak
·         Crustaceae (Udang-udangan)
Mayoritas merupakan hewan air, baik air tawar maupun laut, walaupun beberapa kelompok telah beradaptasi dengan kehidupan darat, seperti kepiting darat. Kebanyakan anggotanya dapat bebas bergerak, walaupun beberapa takson bersifat parasit dan hidup dengan menumpang pada inangnya.
Tubuh Crustacea terdiri atas dua bagian, yaitu kepala dada yang menyatu (sefalotoraks) dan perut atau badan belakang (abdomen). Bagian sefalotoraks dilindungi oleh kulit keras yang disebut karapas dan 5 pasang kaki yang terdiri dari 1 pasang kaki capit (keliped) dan 4 pasang kaki jalan. Selain itu, di sefalotoraks juga terdapat sepasang antena, rahang atas, dan rahang bawah. Sementara pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang dan di bagian ujungnya terdapat ekor. Pada udang betina, kaki di bagian abdomen juga berfungsi untuk menyimpan telurnya. Contoh : kepiting

4.2.3        Fillum Mollusca
Mollusca berasal dari bahasa latin yaitu molluscus yang artinya lunak. Jadi  Filum Mollusca adalah kelompok hewan invretebrata yang memiliki tubuh lunak. Tubuh lunaknya itu dilindungi oleh cangkang, meskipun ada juga yang tidak bercangkang.
                        Spesimen Filum Mollusca di Pantai Karapyak
·         Kerang (Anadara sp)
Kerang (Anadara sp) adalah hewan air yang termasuk hewan bertubuh lunak (moluska). Pengertian kerang bersifat umum dan tidak memiliki arti secara biologi namun penggunaannya luas dan dipakai dalam kegiatan ekonomi.
Dalam pengertian paling luas, kerang berarti semua moluska dengan sepasang cangkang. Dengan pengertian ini, lebih tepat orang menyebutnya kerang-kerangan dan sepadan dengan articlam yang dipakai di Amerika. Contoh pemakaian seperti ini dapat dilihat pada istilah "kerajinan dari kerang".
Kata kerang dapat pula berarti semua kerang-kerangan yang hidupnya menempel pada suatu obyek. Ke dalamnya termasuk jenis-jenis yang dapat dimakan, seperti kerang darah dan kerang hijau (kupang awung), namun tidak termasuk jenis-jenis yang dapat dimakan tetapi menggeletak di pasir atau dasar perairan, seperti lokan dan remis.
Kerang juga dipakai untuk menyebut berbagai kerang-kerangan yang bercangkang tebal, berkapur, dengan pola radial pada cangkang yang tegas. Dalam pengertian ini, kerang hijau tidak termasuk di dalamnya dan lebih tepat disebut kupang. Pengertian yang paling mendekati dalam bahasa Inggris adalah cockle. Dalam pengertian yang paling sempit, yang dimaksud sebagai kerang adalah kerang darah (Anadara granosa), sejenis kerang budidaya yang umum dijumpai di wilayah Indo-Pasifik dan banyak dijual di warung atau rumah makan yang menjual hasil laut.

4.2.4        Filum Porifera
Porifera adalah hewan berpori ,  phorus : lubang kecil atau pori, dan ferre : mempunyai. Sering disebut juga hewan spon (sponge) Pori-pori yang terdapat dalam tubuh Porifera terbentuk karena pada tubuh porifera terdapat kanal atau saluran air untuk mensirkulasikan air dalam tubuhnya. 




Spesimen Filum Porifera di Pantai Karapyak
a)      Sycon
Sycon adalah genus dari spons berkapur milik keluarga Sycettidae. Ini spons kecil, tumbuh sampai dengan 7,5 cm dan memiliki panjang dari 2,5 to7.5, dan berbentuk tabung dan sering putih untuk krim dalam warna.
b)     Clathrina
Clathrina clathrus adalah spesies spons berkapur milik  keluarga Clathrinidae. Spons ini (kadang-kadang putih) kuning, hingga diameter 10 cm, biasanya muncul berbentuk bantal pada jarak (dekat relatif Clathrina coriacea biasanya datar dalam penampilan). Close-up spons dapat dilihat terdiri dari massa kusut tabung (tabung ini lebih tebal dan kurang erat daripada di C. coriacea dan ada osculum ada seperti yang ditemukan pada spesies yang). Seperti C. coriacea, para spikula secara eksklusif tiga menunjuk triactines.
c)      Euspongia
Genus khas spons fibrosa keluarga Spongiidae, memiliki kerangka yang sangat elastis dan homogen seluruh. Ini berisi biasa mandi spons, biasanya diletakkan di Spongia.
d)     Spongia
Spongia adalah genus hewan laut, awalnya digambarkan oleh Linnaeus pada 1759. Beberapa spesies, termasuk officinalis Spongia digambarkan, digunakan sebagai alat pembersih, tapi sebagian besar telah digantikan dalam penggunaan oleh bahan sintetis atau tanaman.




4.3  KLASIFIKASI
4.3.1        Filum Echinodermata
a.      Tripang
Cucumaria frondosa
Kingdom        : Animalia
Phylum          : Echinodermata
Class             : Holothuroidea
Order            : Dendrochirotida
Family           : Cucumariidae
Genus           : Cucumaria
Species         : Cucumaria frondosa
Nama daerah: Teripang / Timun Laut
b.      Landak Laut
arbacia punctulata
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Echinodermata
Class                : Echinoidea
Subclass           : Euechinoidea
Family             : Echinidae
Genus              : Echinaceae
Species            : arbacia punctulata
Nama daerah   : Landak Laut/ Bulu Babi      

c.       Bintang Laut
Asteroidea sp
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Echinodermata
Class                : Asteroidea
Genus              : Asteroidea
Spesies            : Asteroidea sp
Nama Daerah  : Bintang Laut
d.      Lilia Laut

Phylum                        : Echinodermata
Kelas                           : Crinoidea
Subkelas                      : Euchinoidea
Ordo                            : Comatulida
Famili                          : Antedonidae
Genus                          : Antedon
Spesies                        : Antedon mediterranea
Nama Daerah              : Lilia Laut



Tabel Klasifikasi
No.
Nama Daerah
Nama Latin
Kelas
Filum
1
Tripang
Cucumaria frondosa
Echinodermata
2
Bulu Babi
Echinoida
Echinodermata
3
Bintang Laut
Asteroidea sp
Asteroidea
Echinodermata
4
Lilia Laut
Crinoidea
Echinodermata

4.3.2        Filum Arthropoda
·         Kepiting

Scylla Serrata
Kingdom               : Animalia
Phylum                  : Arthropoda
Class                      : Malacostraca
Ordo                      : Decapoda
Spesies                  : Scylla Serrata
Nama Daerah        : Kepiting
4.3.3        Filum Mollusca
·         Kerang

Anadara sp
Kingdom               : Animalia
Phylum                  : Mollusca
Class                      : Bivalvia
Order                     : Veneroida
SubOrder              : Cardioidea
Familly                  : Cardiidae
Spisies                   : Anadara sp
Nama Daerah        : Kerang

4.3.4        Filum Porifera
Tabel Klasifikasi
No
Nama Latin
Kelas
Filum
1
Sycon
Porifera
2
Clathrina
Porifera
3
Euspongia
Porifera
4
Spongia
Porifera

4.4  Tabel Karakteristik, Kladistik dan Kladogram
4.4.1        Filum Echinodermata
Karakteristik Lilia Laut, Landak Laut, Bintang Laut, Tripang
Karakteristik
Lilia Laut
Tripang
Landak Laut
Bintang Laut
1
2
3
4
5
Duri
Tak punya :pediselaria dan duri
Tidak Punya : lengan, pediselaria, dan duri
Pediselaria
Pediselaria (pelindung insang kulit, menangkap makanan, pembersih tubuh)
Sistem ambulakral
Tak punya madreporit
Vesikula poli = perluasan system ambulakral
Sama dengan Asteroidea
Madreporit saluran batu saluran gelang badan tiedemann-4 buah gelembung poli, saluran radial, saluran transversal,ampulla, kaki tabung, alat gerak
Sistem pencernaan makanan
Mulut-esofagus-usus-anus,mulut dan anus berdekatan
Mulut-esofagus-lambung-usus-kloaka-anus
Gigi, mulut-lentera Aristotle-esofagus-lambung-usus-anus
Mulut-esofagus-lambung kardia-lambung pilorik-anus, kelenjar pencernaan
System syaraf
Cincin syaraf, syaraf radial
Cincin syaraf Oral, 5 syaraf radial
Cincin syaraf mulut, 5 syaraf radial, pleksus subepidermal
Ektoneural-hyponeural-aboral
Organ sensoris
Terbelakang
+primitive
Menerima ransangan sentuhan-membedakan gelap dan terang, statotista
Podia, duri, pediselaria
Taktil ( peraba ), bintik mata ( membedakan gela danterang
System reproduksi
Terpisah, larva = doliolaria
Terpisah, hermaprodit, larva= auricularia
Terpisah, lubang genita, larva= pluteus
Terpisah, fertilisasi eksternal, larva= bipinaria
Regenerasi
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Paling tinggi
Alat gerak
-
-
-
Lengan
System respirasi
Podia
Tentakel-kaki tabung-dinding tubuh- kloaka- pohon respirasi
10 buah kantung (modifikasi podia)
Difusi melalui seluruh permukaan tubuh, kaki tabung, papulae

Tabel Kladistik Lilia Laut, Landak Laut, Bintang Laut, Tripang
Karakteristik
Lilia
Laut
Tripang
Bintang
Laut
Landak
Laut
Organ sensoris: Duri
0
0
0
1
Organ sensoris: Pediselaria
0
0
0
1
Syaraf fleksus sub epidermal
0
0
0
1
Gigi
0
0
0
1
Lambung pliorik
0
0
1
1
Anus
1
1
1
1
Madreporit
0
1
1
1
Saluran batu
1
1
1
1
Saluran gelang
1
1
1
1
Badan Tiedemann
1
1
1
1
4 buah gelembung poli
1
1
1
1
Saluran radial
1
1
1
1
Saluran transversal
1
1
1
1
Kaki tabung
1
1
1
1
Mulut
1
1
1
1
Esophagus
1
1
1
1
Sel kelamin terpisah
1
1
1
1
Regenerasi
1
1
1
1
Respirasi (kaki tabung )
1
1
1
1








Tabel Kladogram Lilia Laut, Landak Laut, Bintang Laut, Tripang
 












4.4.2        Filum Arthropoda
Karakteristik Kepiting

Mempunyai lima pasang kaki; sepasang kaki yang pertama dimodifikasi menjadi sepasang capit dan tidak digunakan untuk bergerak. Di hampir semua jenis kepiting, kecuali beberapa saja (misalnya, Raninoida), perutnya terlipat di bawah cephalothorax. Bagian mulut kepiting ditutupi oleh maxilliped yang rata, dan bagian depan dari carapace tidak membentuk sebuah rostrum yang panjang . Insang kepiting terbentuk dari pelat-pelat yang pipih ("phyllobranchiate"), mirip dengan insang udang, namun dengan struktur yang berbeda.

4.4.3        Filum Mollusca
Karakteristik Kerang
Semua kerang - kerangan memiliki sepasang cangkang ( disebut juga cangkok atau katup ) yang biasanya simetri cermin yang terhubung dengan suatu ligamen (jaringan ikat). Pada kebanyakan kerang terdapat dua otot adduktor yang mengatur buka-tutupnya cangkang.
Kerang tidak memiliki kepala (juga otak) dan hanya simping yang memiliki mata. Organ yang dimiliki adalah ginjal, jantung, mulut, dan anus. Kerang dapat bergerak dengan "kaki" berupa semacam organ pipih yang dikeluarkan dari cangkang sewaktu-waktu atau dengan membuka-tutup cangkang secara mengejut.
Sistem sirkulasinya terbuka, berarti tidak memiliki pembuluh darah. Pasokan oksigen berasal dari darah yang sangat cair yang kaya nutrisi dan oksigen yang menyelubungi organ-organnya.
Makanan kerang adalah plankton, dengan cara menyaring. Kerang sendiri merupakan mangsa bagi cumi-cumi dan hiu.
Semua kerang adalah jantan ketika muda. Beberapa akan menjadi betina seiring dengan kedewasaan.
Kerang memiliki gonad, kelenjar genital yang memproduksi sperma atau sel telur tergantung pada jenis kelamin kerang. Fertilisasi telur terjadi secara eksternal di mana sperma dan sel telur akan bertemu di dalam air. Telur yang terbuahi berkembang menjadi larva yang disebut trochophore, yang nantinya akan berenang mengikuti arus dan menempel di suatu tempat sebelum mulai membentuk cangkang.


4.4.4        Filum Porifera
Karakteristik Sycon, Clathrina, Euspongia, Spongia
Karakteristik
Sycon
Clathrina
Euspongia
Spongia
Penyusun Kerangka Tubuh
Spikula seperti duri-duri kecil dari Kalsium Karbonat.
Spikula yang mengandung silikat atau kersik (SiO2). Ujung spikula berjumlah 6.
kerangka yang sangat elastis dan seluruh homogeny.
Serabut spongin atau campuran spongin dan zat kersik.
Ukuran tubuh
Tinggi 7.5 cm
Tinggi kurang dari 10 cm
Tinggi 10-30 cm
Tinggi dan diameter lebih dari 1 meter
Warna
Putih
Kuning
Pucat
Cerah, mengandung pigmen pada amoebosit yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari sinar matahari.
Bentuk tubuh
Tabung
Bantal
Mangkuk
Tidak beraturan dan bercabang
Type saluran air
Askon
Askon
Tipe sikonoid
Tipe Leukonoid
Habitat
Laut dangkal
Laut dangkal
Kedalaman 100-1000 m
Laut dalam maupun dangkal meskipun ada yang di air tawar



Tabel Kladogram Sycon, Clathrina, Euspongia, Spongia
 











TABEL KLADOGRAM ANTAR FILUM
Tabel Kladogram Filum Echinodermata, Mollusca, Artrophoda, Porifera
 








4.5 Cara Pengawetan
           Sebelum mengoleksi hewan Invertebrata, terlebih dahulu anda harus mengetahui bermacam-macam cairan pengawet, teknik pembuatan, serta kegunaannya. Awetan yang sering digunakan dalam mengawetkan hasil koleksi terdiri atas awetan basah dan awetan kering. Untuk lebih jelasnya perhatikan peenjelasan berikut.
1.      Awetan Basah
Hewan disimpan di dalam cairan pengawet . jenis cairan pengawet :
a.       Formalin 4 %
Cara membuat formalin 4 % dari fomalin 40 % adalah dengan gelas pengukur 100ml, tuangkan formalin sebanyak 4 ml dan tambahkan air sehingga volumenya menjadi 100 ml. Untuk hewan laut, air yang digunakan adalah air laut, agar tekanan osmosisnya kurang lebih sama dengan lingkungan hewan tersebut sewaktu masih hidup.
b.      Alkohol 70 %
Alkohol yang sering dipakai adalah etanol, yang serring diperjual beikan adalah etanol 95 %. Cara membuat laruta alkohol 70% dari alkohol 95 % adalah : tambahkan air ( aquades ) 25 ml ke dalam alkohol 95% sebanyak 70 ml.
c.       A.G.A Solution
Formula :
1)      Alkohol 95% ......................... 8 bagian
2)      Aquades ................................. 5 bagian
3)      Glyserin .................................. 1 bagian
4)      Glacial Acetic Acid ................ 1 bagian
Fungsi : Untuk mengawetkan insecta.
Catatan : jangan dibiarkan spesimen direndam dalam larutan ini lebih dari 6 bulan. Untuk jangka lama gunakan alkohol 70%.



d.      Relaxing Solution
Formula :
1)      Alkohol 95% ......................... 280 CC
2)      Aquades ................................. 230 CC
3)      Glyserin ..................................   35 CC
4)      Glacial Acetic Acid ................   95 CC
Fungsi : untuk mengawetkan tempayak/ larva yang bertubuh besar dan lemah.
Teknik :
1)      Matikan larva dengan menggunakan air mendidih
2)      Masukan ke dalam Relaxing solution selama 12-24 jam, untuk larva yang berukuran besar tusuk dengan jarum di 2-3 tempat.
3)      Pindahkan ke dalam alkohol 70%.
e.       K.A.A.D Solution
Formula :
1)      Kerosene ........................ 1 bagian
2)      Alkohol 95% .................. 1 bagian
3)      Glacial Acetic Acid ........ 1 bagian
4)      Dioxane .......................... 1 bagian
Fungsi : untuk mengawetkan larva bertubuh lemah dan kepompong.
Teknik :
1)      Larva yang bertubuh kecil, simpan dalam K.A.A.D Solutin selama 3 jam, dan yang bertubuh besar selama 1 jam ;
2)      Pindahkan dan simpan dalam alkohol 70%.
2.      Awetan Kering
a.       Cangkang kerang dan karang
Teknik : untuk cangkang kerang dan karang hanya perlu dibersihkan dan dikeringkan, serta dalam penyimpanan harus dijaga jangan sampai kotor.


b.      Serangga
Teknik : hewan yang telah mati, tusuk dengan jarum serangga, kemudian tancapkan pada papan yang lembut, atu sayap dan kakinya, kemudian keringkan dengan cara diangin-anginkan (jangan dijemur dengan mengguakan sinar matahari langsung) setelah kering betul beri Paradihlorbenzena atau Naphtalena (agar tidak dimakan serangga lain), lalu simpan di dalam kotak yang rapat.
c.       Kupu-kupu
Teknik : hewan tersebut bunuh di dalam botol pembunuh (killing jar) yang berisi KCN, Chloroform, Carbontetraclorida, kemudian tusuk dengan menggunakan jarum serangga pada bagian thorak, atur sayap dan simpan dalam papan pengering, lalu angin-anginkan sampai kering. Simpan pada kotak kaca yang tertutup.
d.      Preparat permanen pada gelas objek
Fungsi : untuk mengawetkan hewan-hewan kecil, sseperti Protozoa, hewan-hewan parasit atau artrophoda kecil. Beberapa zat yang dipakai dalam mounting medium adalah :
a.       Balsam kanada ( menjadi keras kalau kering )
b.      Folyvinyl lactophenol
c.       Glycerol ( tetap cair )
Teknik : pembuatan preparat permanen memerlukan proses yang agak lama dan akan dipelajari dalam teknik mikroskopi.








BAB V
                                SIMPULAN                       


5.1 Simpulan
Berdasarkan ada tidaknya tulang belakang dikelompokkan menjadi hewan bertulang belakang (vertebrata) dan hewan tak bertulang belakang (Avertebrata). Kelompok hewan avertebrata mempunyai ciri-ciri tidak bertulang belakang, susunan syaraf terletak di bagian ventral (perut) di bawah saluran pencernaan, umumnya memiliki rangka luar (eksoskeleton) dan otak tidak dilindungi oleh tengkorak.
Hewan atau spesimen yang ditemukan di Pantai Karapyak  dari Berbagai macam Filum. Hewan dari antar Filum tersebut adalah : Teripang, Landak laut, Lilia laut, Bintang laut ( Filum Echinodermata ), kepiting ( Filum Artrophoda ), kerang ( Filum Mollusca ), Karang/ Spongs ( Filum Porifera ).
Dalam pengklasifikasian terlihat dari beberapa specimen, memiliki keluarga yang sama sehingga memungkinkan memiliki sifat yang sama, ciri yang sama dan habitat yang sama. Tabel Kladistik dan Klaogram merupakan penentu tingkatan kemajuan organ dari antar filum, kelas, dan family antar spesimen yang ditemukan.
Sebelum mengoleksi hewan Invertebrata, terlebih dahulu anda harus mengetahui bermacam-macam cairan pengawet, teknik pembuatan, serta kegunaannya. Awetan yang sering digunakan dalam mengawetkan hasil koleksi terdiri atas awetan basah dan awetan kering.



DAFTAR PUSTAKA

Rusyana Adun ( 2011 ).Zoology Invetebrata.Bandung: C.V. Alfabeta.

Anonim ( 2013 ).Pengertian dan pemahaman tentang Filum Echinodermata (Online).Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Echinodermata.(27 Januari 2013).

Anonim ( 2013 ).Pengertian dan pemahaman tentang Filum Porifera (Online).Tersedia: http://iwak-pithik.blogspot.com/2012/05/filum-porifera-hewan-berpori-pori.html.(27 Januari 2013).
Anonim ( 2013 ).Pengertian dan pemahaman tentang Filum Arthropoda (Online).Tersedia: http://dhewhy.wordpress.com/2009/07/24/filum-arthropoda/.(27 Januari 2013).











 
 
LAPORAN
KULIAH KERJA LAPANGAN
(KKL)

PANTAI KARAPYAK DESA BAGOLO KECAMATAN KALIPUCANG CIAMIS
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Zoologi Invetebrata
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiayGvnA_SsQvSaDuOOTXJRwxJQNxEsjxdanlXj9JUG3qDBSMGAX3xcvUarYu39ASWEvw6-EoL-CkimGKjTkeWd54PI3spc108WmaHFniFfYObmunm-1UXvimgUiQqdCgOKux88rlwCROM/s1600/FKIP-UNIGAL.jpg
Oleh:
1.                  Asih Eriswanti
2.                  Dania Yogati
3.                  Feri Bakhtiar Rinaldi
4.                  Juju Julaeha
5.                  Pipit Pancawati
6.                  Rinda Sri Haryati
7.                  Septian Christy
8.                  Wiwit Mukti Rahayu
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS GALUH 2012

 
KATA PENGANTAR

Ucapan Bismillahirohmaanirrohiim selayaknya penulis sampaikan, Puji serta syukur sepatutnya dialamatkan kehadirat Allah SWT yang telah mencurahkan rahmat dan karunia-Nya Sehingga laporan Kuliah Lapangan ini dapat diselesaikan.
Laporan kuliah lapangan ini menggambarkan potensi alam yang terdapat di pantai Karapyak Desa Bagolo Kecamatan Kalipucang Kabupaten Pangandaran yang belum dieksplorasi sehingga keadaan alam dan lingkungannya kurang memiliki prospek yang bernilai ekonomi karena tidak memiliki daya tarik dan kalah bersaing dari daerah objek wisata lain seperti Pangandaran, Batu Karas, Batu Hiu dan lain sebagainya. Perlu pemikiran jeli dan analisis yang lebih dalam untuk mampu mengekplorasi potensi alam di pantai karapyak sehingga mampu bersaing dengan objek wisata lain dalam menarik minat pengunjung.
Penulis menyadari bahwa karya tulis ini baik secara fisikal maupun struktural masih jauh dari kata sempurna, Langkah real penyempurnaan karya tulis ini adalah masukan dari pembaca baik berupa kritik maupun saran sebagai titik muhasabah bagi penulis. Namun ketidaksempurnaan karya tulis ini tidak lantas membuat penulis diam tanpa harapan dan angan, karya tulis diharapkan mampu memberi manfaat dan sumbangsih bagi perkembangan dunia pendidikan Nasional Indonesia,  khususnya perkembangan Pendidikan di Universitas Galuh tercinta.

                                                                                    Ciamis ,  Pebruari 2013


i
 
                                                                                              Penulis

 
 

 
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................                 i
DAFTAR ISI..........................................................................................                ii
BAB I PENDAHULUAN
          1.1  Latar Belakang .......................................................................                1
          1.2  Rumusan Masalah...................................................................                2 
          1.3  Tujuan KKL............................................................................                2
          1.4  Manfaat KKL.........................................................................                3
          1.5  Metodologi Penelitian ............................................................                4 
          1.6  Tempat dan Jadwal Pelaksanaan............................................                4
BAB II    TINJAUAN UMUM
          2.1  Paparan singkat tentang Pantai Karapyak..............................                5
          2.2  Obyek Wisata.........................................................................                7
          2.3  Profil Desa Wisata .................................................................                7






ii
 
 
BAB III   URAIAN KEGIATAN
          3.1  Turun Kelaut...........................................................................              10
          3.2  Penyisiran Trumbu Karang.....................................................              10
          3.3  Pengambian Hewan................................................................              10
          3.4  Pengelompokan Hewan..........................................................              11
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN MASALAH
4.1  Hewan yang Avetebrata..........................................................              12
          4.2  Hewan yang ditemukan..........................................................              19
          4.3  Klasifikasi...............................................................................              26
          4.4  Tabel Karakteristik, Kladistik dan Kladogram.......................              29
4.5  Cara Pengawetan....................................................................              36
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
          5.1  Simpulan.................................................................................              39

 
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN – LAMPIRAN


 

ii


DAFTAR LAMPIRAN
Foto Spesimen

Komentar